Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2014

Pertemuan 4 TTG : Penjernihan Air dengan Biji Kelor (Moringa oleifera)

Lebih baik melindungi dan menggunakan sumber air yang aman, seperti mata air atau sumur yang dilindungi daripada harus membersihkan dan menggunakan air dari sumber yang sudah terkontaminasi, seperti sungai atau kubangan.

Tetapi air dari sumber mana pun perlu dibersihkan jika air itu sudah terkontaminasi, atau jika orang menolak meminumnya karena warna atau rasanya, atau jika air itu diangkut atau disimpan di rumah . (Air dari pipa, tangki, dan sumur-sumur juga perlu dibersihkan sebelum diminum, jika sudah terkontaminasi)

Metode yang Anda pilih akan tergantung pada berapa banyak air yang dibutuhkan, jenis kontaminasi yang ditemukan, bagaimana cara menyimpana, dan sumberdaya apa yang Anda miliki . Apa pun caranya, yang terbaik adalah mendiamkan dulu air itu baru dituang ke wadah lainnya, atau menyaringnya dulu sebelum kuman-kuman dibasmi (desinfektan). Cara ini akan membuang endapannya (partikel kotoran) dengan menyingkirkan endapannya maka proses pembasmian kuman jadi lebih mmudah dan lebih efektif.

Metode yang ditunjukkan di sini tidak membuat air aman dari bahan kimia beracun . Air yang mengandung bahan kimia beracun tidak pernah aman untuk minum, mandi, atau mencuci pakaian karena akan menyebabkan kanker, ruam kulit, keguguran, atau gangguan kesehatan lainnya. 

Salah satu metode penjernihan air yang aman dan mudah adalah penggunaan biji kelor sebagai bio-koagulan.

Salam,

Download :


Bookmark and Share

Minggu, 28 September 2014

Pertemuan 2 AMDAL : Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam AMDAL

Secara umum kegunaan Amdal adalah : Memberikan informasi secara jelas mengenai suatu rencana usaha, berikut dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

  1. Menampung aspirasi, pengetahuan dan pendapat penduduk khususnya dalam masalah lingkungan, dengan akan didirikannya rencana usaha tersebut.
  2. Menampung informasi setempat yang berguna bagi pemrakarsa dan masyarakat dalam mengantisipasi dampak dan mengelola lingkungan.
  3. Melalui partisipasi masyarakat dalam proses Amdal, diharapkan di masa mendatang masyarakat juga akan turut serta secara aktif dalam pengambilan keputusan mengenai kelayakan lingkungan suatu rencana usaha dan atau kegiatan.

Amdal bermanfaat untuk : 

  1. Memprediksi dampak proyek terhadap lingkungan. 
  2. Mencari jalan untuk mengurangi dampak negatif dan membuat proyek tepat lingkungan.
  3. Menyajikan hasil prediksi serta alternatif-alternatif bagi pembuat keputusan. 
Hampir semua proyek-proyek pembangunan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Proyek -proyek pembangunan yang secara nyata dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan antara lain : 
  • Kegiatan penggunaan dan transformasi lahan: proyek transmigrasi, irigasi, pembuatan perkebunan, tambak udang dll.
  • Kegiatan pengambilan sumberdaya alam : pertambangan (emas, batubara, tembaga dll.), eksploitasi hutan (HPH).
  • Kegiatan pembinaan sumberdaya alam : Reklamasi lahan, reboisasi hutan, pengendalian banjir.
  • Kegiatan pertanian : pencetakan sawah, peternakan, perikanan (kolam, air deras), perkebunan.
  • Kegiatan industri : pendirian pabrik pupuk, semen, tapioka, mobil, kertas, baja, makanan ternak.
  • Kegiatan transportasi : pembuatan jalan baru seperti jalan tol dan jalan layang, pembuatan pelabuhan baik udara, ferry, perikanan, dan sebagainya.
  • Kegiatan pengadaan energi : pembuatan PLTA, PLTU, PLTD, PLTN, dll. h. Kegiatan pariwisata : pembuatan tempat rekreasi, lapangan golf, taman hiburan, dll. 
Secara rinci pemerintah telah mengeluarkan suatu keputusan tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2012.

Download :
Salam,



Bookmark and Share

Sabtu, 18 Mei 2013

Bedah buku Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan bersama Agustinus Wibowo


"Titik Nol" buku ketiga Agustinus Wibowo (doc.pri)
Akhirnya aku bisa bertemu salah satu penulis favoritku Agustinus Wibowo di salah satu forum bedah buku terbarunya "Titik Nol".
Forum diskusi sore itu diadakan di Indonesia Buku, Jalan Patehan Wetan, Alun-alun Lor, Yogya.
Tempat yang termasuk 'nyempil'dan tenang untuk sebuah perpustakaan mandiri dengan dominasi literatur sastra dan sejarah.
Informasi menarik lainnya, buku-buku di perpustakaan Indonesia Buku ternyata boleh dipinjam jika menjadi anggota :)
Kembali ke bedah buku Titik Nol, acara dimulai tepat pada waktunya :) apalagi penulis sudah siap di tempat terlebih dahulu.
Diawali dengan pengenalan secara umum buku-buku yang ditulis oleh Agustinus yaitu selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol, selanjutnya dengan bagian tanya jawab.
Diskusi yang seru dan disiarkan langsung oleh Radio Buku. Aku bagikan beberapa diskusi yang menarik :)

  1. Sharing dari seorang guru sosiologi dan Antropologi, De'britto, Yogya yang ternyata sangat mengidolakan Agustinus Wibowo, dimana beliau menggambarkan betapa bahagia beliau bertemu dengan Agustinus, seperti anak perempuannya bertemu Cherybelle :D. Begitu tertarik beliau dengan kisah perjalanan backpacker Agustinus, hingga menjadikan buku selimut Debu dan Garis Batas menjadi buku referensi dalam pelajaran sosiologi beliau #ajaib! Murid didikan beliau mendapatkan tugas untuk membaca kisah salah satu negara dalam buku Agustinus dan diakhiri dengan ujian wawancara. Meskipun beliau sudah hafal isi buku-buku Agustinus, akan tetapi ternyata pendapat murid tentang kesan suatu negara dalam buku bisa berbeda-beda satu sama lain, misal salah satu murid dengan bagian membaca India, menggambarkan deskripsi singkat tentang India dengan 3s: stolen, sickness, and sex. Melalui sharing beliau, aku menganggap buku Agustinus termasuk dalam buku perjalanan backpacker yang "timeless". Kita akan mengetahui tentang lingkungan sosial, ekonomi, dan politik negara Asia Tengah, dll tanpa perlu mengkerutkan dahi :)
  2. Pertanyaan berikutnya berupa pertanyaan apa yang perlu dipersiapkan untuk seorang backpacker amatir? Mungkin bagi yang mengikuti perjalanan Agustinus dari buku selimut Debu sampai dengan Titik Nol akan memperkirakan bahwa jawaban Agustinus berupa jawaban "filosofis" bukan "teknis":) kemungkinan karena Agustinus sudah mengalami perjalanan backpacker selama 10 tahun, dan penuh dengan perenungan. hal yang perlu disiapkan oleh backpacker adalah (1) bukan seberapa banyak yang bisa kita bawa saat perjalanan, tapi seberapa banyak yang rela kita lepas selama perjalanan (nah, berkerut-kerut khan mencerna kalimatnya :) (2) mau menanggalkan ego kita selama perjalanan, dengan cara menganggap orang yang kita temui di perjalanan bukan orang asing, tetapi kita lah si pejalan sebagai orang asing, dengan demikian kita akan dengan penuh sukacita mendengarkan cerita mereka tentang hal-hal yang belum kita ketahui. ##monggo dipikirkan,  kalo bingung baca bukunya dulu :) #lha kok malah promosi
  3. Seorang ibu yang sangat mengidolakan Agustinus, begitu penasaran dengan menanyakan bentuk kemapanan apa yang diharapkan oleh Agustinus, karena sebagian besar dari kita mengganggap kemapanan adalah hal yang paling 'ultimate'. Menurut Agustinus, ketidakmapanan dia, adalah kemapanan dia. #nah, tambah filosofis lagi khan, berkerut-kerut deh
  4. Praktek bahasa Tajikistan dan Uzbekistan yang dia perlihatkan (karena permintaan peserta) begitu fasih, diakui oleh dua mahasiswa dari negara tersebut (kebetulan kuliah di uns)
Karena Agustinus merupakan salah satu penulis favoritku, ritual yang tidak boleh dilewatkan foto bersama dan meminta tanda tangannya :)
Foto bersama penulis "Titik Nol" Agustinus Wibowo
Akhirnya buku favorit suami mendapatkan tanda tangan penulis ^_^
Kesanku bertemu Agustinus dan mendengarkan pendapat dia dalam menjawab berbagai pertanyaan adalah dia penulis yang memahami pembaca dengan mampu mengajak kita untuk berjalan bersama dalam kisah-kisah perjalanan.
selain itu, tulisan Agustinus mampu membuat kita merasakan makna perjalanan yang berbeda dengan dia, dan membuat pembaca mampu merefleksikan diri pembaca di depan cermin pribadi melalui kisah-kisah perjalanan dan foto-foto memikat.
outstanding books !

Jika ingin menyimak tentang kisah-kisah perjalanan dan foto-foto memikatnya terdapat di laman http://www.avgustin.net dan http://www.facebook.com/avgustin88/
salam baca buku ^_^


Bookmark and Share

Rabu, 15 Mei 2013

Apakah Anda Obesitas ?




Sering dalam obrolan sehari-hari kita menemui kata obesitas. Ada yang menyamakan dengan kegemukan meski tidak tepat betul. Kegemukan dan obesitas adalah kondisi ketika seseorang memiliki total lemak tubuh yang berlebihan dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan.
Ada beberapa macam cara pengukuran untuk menentukan berat seseorang normal atau obesitas.

  • Indeks Massa Tubuh (IMT) Cara menentukan derajat obesitas yang paling sering dipakai adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). Caranya dengan mengukur tinggi badan, TB, (dalam meter) dan berat badan, BB, (dalam kilogram). Nah, IMT = BB/(TB)2.
    Menurut badan PBB yang mengurusi kesehatan (WHO), IMT orang normal adalah 18,5 – 24,9. Jika kurang dari 18,5 dikatakan kurus, sedangkan 25 ke atas disebut obesitas, yang dibagi pula dalam obesitas derajat 1 (IMT 25 – 29,9), obesitas derajat 2 (IMT 30 -39,9) dan obesitas derajat 3 atau morbid/severe obesity (IMT 40 atau lebih).
    Untuk lebih mudahnya, kita memakai angka 20, 25, dan 30. Bila IMT di bawah 20 disebut kurus, 25 ke atas dikatakan gemuk, dan IMT 30 atau lebih dinamakan obesitas. Sedangkan di antara kategori kurus dan gemuk dimasukkan kelompok berat badan normal.
    Pengukuran IMT ini tidak akurat pada orang tertentu, misalnya binaragawan atau atlet (otot mempunya berat lebih daripada lemak), anak, orang tua, wanita hamil, atau orang dewasa yang pendek (tinggi badan kurang dari 150 cm).
    IMT juga kurang tepat bila dipakai untuk mengukur obesitas anak. The International Obesity Task Force pada tahun 1997 menggunakan BMI Percentle Chart, dengan batas 85 dan 95 centile. Batas rendah setara dengan anak yang gemuk, batas yang tinggi adalah anak obesitas. Jadi batas centiles itu adalah kira-kira batas IMT 25 dan 30 bagi orang usia 18 tahun.
    Obesity Chart
  • Lingkar pinggang (LP) Cara lain menentukan obesitas adalah dengan mengukur lingkar pinggang. Orang yang akan diukur harus berdiri dan rileks, baju dinaikkan, perlahan-lahan mengeluarkan nafas, kemudian lingkarkan pita pengukur di pinggang. Minta bantuan orang itu memegang salah satu ujung pita atau melingkarkan pita pengukurnya. Pita itu harus tepat melewati titik di samping tubuh, di antara ujung bawah tulang iga dan ujung atas tulang panggul, serta di titik tengah tubuh, 1 cm di bawah pusar. Bila setiap kali mengukur lingkar pinggang dilakukan oleh pengukur yang sama, hasilnya akan lebih dapat dipercaya.
    Lingkar pinggang yang normal atau sehat adalah di bawah 88 cm (35 inci) untuk wanita dan di bawah 102 cm (40 inci) untuk pria. Di Asia, kita memakai criteria obesitas sentral >= 90 cm untuk lingkar pinggang pria dan >= 80 cm untuk wanita.
    Mengukur Lingkar Pinggang
  • Rasio pinggang - panggul (RPP) Perbandingan dari ukuran lingkar pinggang (waist circumference) dan ukuran lingkar panggul (hip circumference) disebut sebagai rasio pinggang-pinggul. Bila RPP 0,95 atau lebih pada pria dan 0,8 atau lebih pada wanita, maka orang tersebut masuk kategori obesitas.
    LP dan RPP erat hubungannya dengan kecenderungan seorang terkena diabetes. Semakin tinggi ukuran LP dan RPP seseorang, maka semakin mudah ia menjadi pengidap diabetes.
Jadi, berat badan yang sehat atau ideal adalah berat badan yang bukan underweight, bukan pula overweight atau obesitas, yaitu IMT 20 -25, lingkar pinggang di bawah 88 cm untuk wanita dan di bawah 102 cm untuk pria
 
salam sehat.
 
 


Bookmark and Share

Minggu, 21 April 2013

Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Sleman, DIY


Pajak kendaraan roda duaku habis bulan april ini dan aku merencanakan mengurus Pengesahan Pajak Lima Tahun, yang artinya aku ingin melihat apakah tempat perpanjangan pajak kendaraan, khususnya di Kabupaten Sleman, nyaman, menyenangkan, dan bebas calo?? Ya, info ini buat kalian yang ingin mengetahui, bahkan mungkin merencanakan untuk mengurus pajak kendaraan bermotor (ada kemungkinan alur yang diterapkan di SAMSAT Sleman  sama dengan tempat lain).
Sebagai informasi jadwal pelayanan SAMSAT Sleman, DIY adalah hari Senin – Sabtu jam 08.00 – 12.00.  Sebenarnya di kantor tersebut sudah ada keterangan alur pengurusan yang besar sekali (mungkin karena besar sekali, poster itu terlewat olehku, hehehe ) yaitu :
1.       Pengesahan Pajak Tahunan
Pendaftaran Loket III.C -- Pembayaran Kasir IV B/C/E - - Penyerahan STNK Loket V
2.       Pengesahan Pajak Lima Tahunan
Cek Fisik Loket II -- Formulir TNKB Loket I.B -- Pendaftaran Loket III.C -- Pembayaran Kasir IV B/C/E -- Penyerahan STNK Loket V
Alur di atas adalah alur resmi terpampang di Kantor tsb dan aku akan menceritakan secara detail pengalaman mengurus pengesahan pajak kendaraan bermotor roda dua lima tahunan.

Minggu, 27 Januari 2013

Papan Permainan Punakawan oleh Kummara

Sudah ada beberapa board game yang berhasil diciptakan Kummara, perusahaan game designer Indonesia. Salah satunya adalah Punakawan Board Game. Permainan ini bercerita tentang Punakawan yang menjagai bayi dewa-dewi pewayangan. Tiap pemain (minimal dua pemain, maksimal empat) memegang bidak karakter Punakawan Sunda: Semar, Cepot, Gareng, dan Dawala. Sedangkan bayi yang dijaga adalah tokoh ksatria Pandawa dan Hastinapura yang dikutuk menjadi bayi.
 Menurut Rio Frederico (24), brand manager sekaligus desainer Punakawan, pada dasarnya permainan Punakawan ini mengandalkan kemampuan ingatan. Pemain harus mengingat-ingat posisi para bayi ksatria yang cocok, untuk kemudian ditandai dengan “bantal” yang akan dihitung pada akhir permainan untuk menentukan pemenangnya. Karakter Punakawan yang dipakai sebagai bidak sebenarnya bukan asli kreasi tim desainer Kummara. Memang, Kummara bekerja sama dengan Faisal Azad dari Salazad Papertoy, sang pembuat paper toy Punakawan. “Tapi kini kita buat dari kayu supaya tidak mudah rusak,” terang Rio. Perubahan bahan bidak dari kertas karton menjadi kayu itu hanya satu dari sekian pembaruan yang dilakukan Kummara untuk Punakawan. Rio menceritakan, ide awalnya bukan dewa-dewi yang akan dimasukkan, tapi ayam. “Jadi ceritanya Punakawan cari ayam. Setelah riset dan ngobrol, Punakawan itu termasuk tokoh pewayangan yang powerful. Orang sakti tapi jadi pelayan. Maka dipilihlah tokoh pewayangan juga untuk mereka asuh,” Rio menerangkan. Memang, pada setiap board game yang diciptakan Kummara, selalu dilakukan tes permainan. Selain tes internal, juga dilakukan tes oleh pihak di luar. Rio menyebutnya blind test. “Kami meminta seseorang untuk memainkan permainan tersebut tanpa dijelaskan, tapi membaca sendiri buku manual yang disertakan dalam boks,” kata Rio. 

Punakawan Board Game ini merupakan salah satu realisasi misi Eko dan kawan-kawan untuk mengampanyekan sisi positif bermain. “Dari Punakawan anak-anak bisa belajar tentang tokoh pewayangan, yang merupakan satu kekayaan budaya Indonesia.” Ada cerita lucu di awal peluncuran Punakawan di pasaran. Saat itu banyak orangtua dan guru yang menanyakan kepada Kummara perihal tokoh wayang yang ada di permainan tersebut. Maka itu, di cetakan kedua Kummara mengikutkan semacam ensiklopedia singkat yang menjelaskan para tokoh wayang di Punakawan Board Game, supaya anak-anak bisa tahu cerita di balik para tokoh. Orangtua atau guru juga bisa menjelaskan. 

Nah, bersama Punakawan anak-anak tak hanya bermain, tapi juga belajar. 
Semoga menginspirasi,

Sumber : Intisari


Bookmark and Share

Minggu, 17 Juni 2012

Hati-hati Penggunaan Kemasan Plastik Kode. 03 (PVC) Sebagai Kemasan Makanan

Penggunaan plastik kresek sebagai pembungkus makanan ternyata tidak sepenuhnya aman. Bukan hanya plastik kresek, kemasan yang terbuat dari plastik dan memiliki kode 03 (PVC) perlu diperhatikan penggunaannya. Sebenarnya sudah lama BPOM mengeluarkan edaran tentang dampak negatif penggunaan plastik kresek atau kemasan plastik kode 03 (PVC) untuk kemasan makanan dan sekarang saya memberikan penjelasan tambahan agar kita lebih berhat-hati mempergunakannya.

PVC adalah kepanjangan dari Poli Vinil Chloride yang merupakan polimer dalam pembuatan plastik. Polivinil klorida (IUPAC: Poli(kloroetanadiol)), biasa disingkat PVC, adalah polimer termoplastik urutan ketiga dalam hal jumlah pemakaian di dunia, setelah polietilena dan polipropilena. Di seluruh dunia, lebih dari 50% PVC yang diproduksi dipakai dalam konstruksi. Sebagai bahan bangunan, PVC relatif murah, tahan lama, dan mudah dirangkai. PVC bisa dibuat lebih elastis dan fleksibel dengan menambahkan plasticizer, umumnya ftalat. PVC yang fleksibel umumnya dipakai sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan insulasi kabel listrik.

PVC ditemukan secara tidak sengaja oleh Henri Victor Regnault pada tahun 1835 dan Eugen Baumann di tahun 1872. Di awal abad ke 20, ahli kimia Rusia, Ivan Ostromislensky dan Fritz Klatte dari perusahaan kimia Jerman Griesheim-ElektronWaldo Semon dan perusahaan B. F. Goodrich mengembangkan metode menjadikan PVC 'benar-benar plastik' dengan menambahkan berbagai bahan tambahan. Hasilnya, PVC menjadi lebih fleksibel dan lebih mudah diproses yang lalu mencapai penggunaan secara luas mencoba menetapkan penggunaan PVC sebagai produk komersial.

Penggunaan PVC secara meluas di dalam produk kemasan. Keberadaan produk kemasan makanan yang terbuat dari PVC berbahaya karena Monomer Vinil Klorida (Vinil Chloride Monomer, VCM) akan terlepas dalam makanan yang berlemak / berminyak atau mengandung alkohol berlebih dalam keadaaan panas. Selain itu, di dalam pembuatan kemasan plastik PVC juga melibatkan logam berat timbal sebagai racun bagi ginjal dan syaraf. Salah satu penggunaan kemasan tersebut yaitu plastik mika untuk tutup kue tart transparan bentuk silinder dilengkapi alas warna hitam bentuk lingkaran (surat peringatan publik oleh BPOM RI). 

Jika meninjau ketidakamanan kemasan tersebut khususnya sebagai wadah kemasan makanan beralkohol, saya menjadi ingat kemasan yang kerap dipergunakan untuk membungkus Tape Ketan Muntilan, secara kasat mata kemasan yang dipergunakan memiliki kelenturan yang sama dengan tempat roti tart (walaupun dugaan saya belum didukung oleh penelitian tentang kadar VCM dan Pb). Sebagai langkah antisipasi, lebih baik para pedagang mengganti kemasan dengan bahan yang lebih aman yaitu dengan Plastik Poli-Etilen (PE) Kode 02 & Kode 04, dan Poli-Propilen (PP) Kode 05 aman digunakan sebagai kemasan makanan.

Somoga bermanfaat,
Salam,

DOWNLOAD : 

Sumber : 

Kamis, 07 Juni 2012

Pengujian Raksa pada Krim Wajah


Perubahan kulit yang Anda alami setelah menggunakan kosmetika berlangsung cepat? terjadi dalam beberapa hari? anda mulai meragukan komposisi kosmetika Anda ? mengandung Hg atau tidak ? Berikut saya berikan beberapa informasi berkaitan dengan logam berat berwujud cair tersebut (baca : raksa) berserta cara pengujiannya khusus untuk sampel kosmetika.

Berdasarkan peraturan Menkes RI No. 140/Menkes/Per/III/1991 tentang wajib daftar alat kesehatan rumah tangga, bahwa kosmetik adalah  sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan , gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya dalam keaadan baik, memperbaiki bau badan, tetapi tidak tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit. Kosmetik termasuk sediaan farmasi maka pembuatannya harus mengikuti persyaratan, keaamanan dan kemamfaatannya sesuai dengan undang-undang kesehatan serta peraturan pelaksanaannya.
Krim adalah sediaan padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan  untuk pemakaian luar. Sekarang ini batasan tersebut diartikan untuk produk yang terdiri atas minyak dan air atau disperse mikro kristal asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk sebagai kosmetik dan untuk estetika.

A. Krim Pemutih
Krim pemutih  pemutih merupakan campuran bahan kimia dan lainnya dengan khasiat bisa memucatkan noda hitam (coklat) pada kulit. Tujuan penggunaanya dalam jangka waktu yang lama agar dapat menghilangkan  atau mengurangi hiperpigmentasi pada kulit, tetapi penggunaan yang harus terus menerus justru akan menimbulkan pigmentasi dengan efek permanen.
1.        Bahan aktif  krim pemutih.
Bahan aktif dalam kebanyakan sediaan pemutih modern adalah garam merkuri, bahan paling sering digunakan dari jenis ini merkuri kloroamida  (merkuri amida klorida, HgNH2Cl2), merkuri klorida (sublimate, HgCl2), merkurous klorida (kalomel, Hg2Cl2).  Semua senyawa ini kecuali Hg2Cl2 yang tidak dapat larut dalam air, lemak dan pelarut organic dan dicampur kedalam krim dalam bentuk dispersi halus.
2.        Cara kerja krim pemutih
Efek garam merkuri tergantung pada inhibasi enzim tirikinaase yang bertanggung jawab pada tahap pertama oksidasi tirosin menjadi melanin sehingga tahap awal dari reaksi berantai yang menuju pembentukan melanin tidak terjadi dan kulit mencerah atau lebih putih. Melanin yang ada tidak dapat dihancurkan tetapi pembentukan pigmen dicegah. Sebagai tambahan, sublimat mempunyai efek pengelupasan karena melepaskan HCl pada lapisan kulit yang paling atas yang menyerang korneum.
 

Kamis, 10 November 2011

Hati-hati dengan Plastik di Sekitarmu


Bicara tentang plastik, kita pasti tidak asing lagi apabila diminta untuk menyebutkan kegunaan plastik dalam kehisupan kita sehari-hari.Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai Penggunaan plastik sebagai tempat penyimpan makanan, minuman, botol susu, botol air mineral, pembungkus makanan, dll. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Apakah Bisphenol-A? Bisphenol-A merupakan senyawa kimia penyusun plastik yang dapat dibagi menjadi-jadi beberapa senyawa kimia turunan dan diberi simbol pada berbagai produk plastik.

Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik?
PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.

V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.

Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita. Selanjutnya, meskipun beberapa produk memberikan tawaran keamanan untuk penggunaan produk plastik di microwave, alangkah baiknya demi kesehatan gantilah kemasannya untuk bahan keramik, gelas, atau pyrex.


Semoga informasi ini bermanfaat.


Bookmark and Share

Rabu, 27 Oktober 2010

Elegan, Penuh Energi, dan Cantik : Dua Dari Trilogi Opera Jawa “Tusuk Konde”

Pertama kali mendengar berita, ada teater musical, aku tertarik, ditambah lagi dengan informasi Garin Nugroho sutradaranya. Ya, tentu tidak akan kulewatkan. Penasaran. Alasan pertamaku. Berdasarkan informasi, Opera Jawa menceritakan tentang kisah Ramayana, ya, aku pikir kalo hanya Kisah Ramayana seperti wayang, pasti bukan Garin. Kubayangkan Garin, sosok seniman, yang penuh ide tafsir cerdas. Penasaran, lagi lagi kata itu kuungkapkan, seperti apa Ramayana dikisahkan oleh Garin? Seperti teater musikal dengan para penari profesional?


(seashoredisco.blogspot.com)

Simbolik, kesan pertamaku, pertama kali memasuki lobi gedung pertunjukan Teater Besar ISI Surakarta. Lobi tersebut diperuntukkan untuk pameran foto Opera Jawa yang telah ditampilkan di beberapa negara, akan tetapi keberadaan kukusan nasi besar dikelilingi kain merah, menimbulkan pertanyaan ”Apa maksudnya? Apakah berhubungan dengan cerita Tusuk Konde?”

Teater diawali dengan monolog oleh dalang, dengan bahasa Jawa, vokal dan nada gamelan dan tetabuhan Bali yang mengiringi, terlihat bahwa ini teater perpaduan budaya Jawa. Empat pasang penari muncul di panggung, menari di atas panggung diiringi gamelan Bali. Selanjutnya, adegan diawali oleh Limbuk (Endah Laras) yang melakukan narasi tentang sekilas kisah Tusuk Konde. Tiga buah kukusan nasi yang diletakkan sebelum pertunjukkan akhirnya terbuka dan muncullah tiga tokoh utama yaitu Rama (Heru Purwanto), Sinta (Dwi Nurul Hidayah), dan Rahwana (Eko Supriyanto). Peristiwa tersebut memaknai kelahiran.


SINOPSIS : Kisah diawali saat Sinta memilih Rama sebagai pendamping hidupnya. Sinta memberi Rama sebuah konde dan Rama memberi Sinta sehelai rambutnya sebagai perlambang sumpah setia pernikahan. Rahwana memiliki kukusan nasi besar terbuat dari bambu sebagai simbol pegunungan dan dominasi kehidupan. Rama hendak pergi bertapa dan meninggalkan Sinta dengan perlindungan lingkaran ajaib di sekeliling Sinta, disimbolkan dengan penari-penari mengelilingi Sinta. Sepeninggal Rama, Rahwana merayu Sinta dengan kekuasaan dan cinta dan akhirnya Sinta tak kuasa menahan rayuan Rahwana, mulai bermain api dengan Rahwana. Sepulang dari bertapa, Rama merasakan ada perubahan dalam diri Sinta, dan akhirnya dia mengetahui bahwa Sinta sudah tidak setia pada pernikahan mereka. Tak kuasa menahan amarah, Rama dikuasai murka membunuh Rahwana dan selanjutnya membunuh Sinta dengan tusuk konde pemberian Sinta.

Menurutku melalui pertunjukkan teater musikal tersebut, terlihat bahwa Garin telah berusaha membumikan Ramayana dengan kisah cinta, pertarungan, pengkhiatanan, balas dendam. Kisah Ramayana yang dinilai romantis menjadi kisah cinta yang posesif, cinta yang membutakan. Balutan musik tanah Jawa : Bali, Yogyakarta/Solo, daerah pesisir utara (dengan bahasa ngapak), dan Jawa Barat berpadu elegan dengan energi pemain teater sebagai penari, penembang dan pemain watak. Berlapis-lapis makna di pertunjukkan ini, makna musik, syair, gerak tubuh melalui tarian, simbolik benda-benda sederhana, dan tata artistik panggung.

Elegan, penuh energi, dan cantik itulah ”Tusuk Konde” dua dari trilogi Opera Jawa.

Salam,


Bookmark and Share

Minggu, 06 Juni 2010

Gaya Seni Pertunjukan 'Sampakan' khas Teater Gandrik

Sabtu, 5 Juni 2010, akhirnya saya melihat Teater Gandrik pentas. Teater Gandrik dengan lakon Pandol "Panti Idola" disukseskan oleh pemain lama serta generasi baru 'gandrik'
Ada tulisan yang menarik dan akan saya bagikan. Opini ini termuat dalam Kompas (http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/23/03580817/Gandrik.Back.to.Basic) tentang seni pertunjukan Teater Gandrik dalam Pandol yang sebelumnya dipentaskan di Jakarta.



Gandrik "Back to Basic"
Oleh : Ilham Khoiri & Idha Saraswati

Masih adakah kiat jitu untuk memberantas korupsi yang telanjur merajalela? Bikin saja panti rehabilitasi bagi keluarga yang tak ikut menikmati uang rakyat, tapi terkena dampaknya.

Begitu lulus pendidikan, para korban korupsi itu didorong untuk berjuang melawan kejahatan yang pernah menyengsarakan mereka.

Begitu kira-kira jawaban yang diusung Bupati Kotabulus dengan membangun panti rehabilitasi korban korupsi. Setelah beberapa tahun, ternyata proyek yang disebut Panti Idola alias Pandol itu meluluskan kader-kader antikorupsi. Ketika jumlah kejahatan itu menurun, Bupati memperoleh penghargaan.

Ini gambaran awal kisah Pandol, lakon terbaru Teater Gandrik asal Yogyakarta. Naskah garapan Heru Kesawa Murti ini dipentaskan di Teater Salihara, Pasar Minggu, 20-22 Mei.

Seiring dengan prestasi Pandol, Bupati (diperankan Butet Kartaredjasa) bersama Direktur Panti (Kusworo Bayu Aji) makin getol menggelontorkan banyak dana untuk kegiatan panti. Kepala Dinas Pendidikan (Heru Kesawa Murti) dan Kepala Dinas Pariwisata (Broto Wijayanto) ikut memotong anggaran dinas masing-masing untuk dialirkan ke proyek itu.

Namun, di tengah gegap gempita itu, dua pemeriksa Panitia Pemberantasan Korupsi alias PPK (Susilo Nugroho dan Sepnu Heryanto) mencium gelagat tak beres. Di balik program panti, ternyata Bupati dan Direktur Pandol mengeruk keuntungan pribadi. Dana program pemberantasan korupsi itu ternyata dikorupsi!

Bupati berusaha berkelit dengan berbagai trik, termasuk mengeluarkan peraturan daerah yang seperti melegalkan korupsi. Kekuatan PPK, lembaga antikorupsi itu, terancam dikebiri. Suasana di Kotabulus memanas.

Begitulah, Pandol mengangkat problem aktual di negeri ini. Bangunan ceritanya menyodorkan anatomi korupsi yang berlapis, digerakkan jaringan penguasa, dan ditamengi berbagai kedok legal, seperti anggaran, perda, dan program antikorupsi. Meski agak aneh, gagasan panti rehabilitasi tadi menggoda tanya: cara apa lagi yang ampuh memberangus korupsi?

Sampakan

Pandol dibawakan dengan cara khas Gandrik: segar, nakal, kocak, penuh parodi atas berbagai soal. Memang kisahnya berlangsung di negeri antah-berantah dengan tokoh-tokoh mirip dunia wayang atau ludruk. Namun, perbincangan di panggung tak henti menyentil berbagai masalah aktual di negeri ini.

Bupati Kotabulus, contohnya, sempat menyebut orang yang besanan dengan koruptor itu pantas masuk Pandol karena terhitung sebagai korban korupsi. Penonton, yang segera bisa membayangkan sosok yang disindir itu, langsung tertawa riuh. Begitu juga saat muncul dua anggota dewan yang berkeliling menjajakan perda, persis pedagang asongan jual rokok.

Adegan demi adegan dibawakan dengan cara ”sampakan”—istilah penyair Kirjomulyo almarhum yang merujuk pada gamelan iringan ketoprak yang riang. Dengan semangat itu, panggung Teater Gandrik menjadi medan terbuka, di mana para aktor bermain secara luwes, spontan, dan keluar-masuk dalam karakter peran atau diri sendiri.

Para pemeran bebas berimprovisasi di luar naskah, bahkan kerap menemukan kembangan adegan baru di atas panggung. Pemain dan penonton disatukan dalam peristiwa panggung.

Pendekatan yang mengambil spirit teater tradisional itu sudah lama dirintis Gandrik, terutama lewat lakon seperti Pasar Seret (1985), Sinden (1986), atau Dhemit (1987). Sebenarnya, kelompok ini juga pernah menjajaki gaya lain. Tahun 2008 mereka mementaskan lakon Sidang Susila yang mengandalkan dialog panjang dan kritik langsung. Lalu, mereka mementaskan Keluarga Tot (2009), lakon realis dari Hongaria yang bernuansa kekeluargaan.

Hanya saja, seperti ditunjukkan lewat Pandol, Gandrik akhirnya kembali ke gaya sampakan. ”Kami sudah mengembara, tapi kembali ke sampakan. Mungkin inilah kejujuran kami dan di sini juga kami menemukan kegembiraan,” kata Butet .

Keroyokan

Para aktor kelompok ini, terutama generasi awal, memang hidup dalam budaya sampakan . Sehari-hari mereka berbicara dan berperilaku spontan, ngomong ceplas-ceplos.

Sampakan lantas dihidupkan lagi lewat latihan yang guyub, terbuka, dan keroyokan. Itu terasa sekali dalam latihan Pandol di Padepokan Bagong Kussudiardja, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, awal Mei lalu. Semangat kolektif diterapkan dalam seluruh proses kreatif sejak pematangan naskah, pengadeganan, pemilihan kostum, properti, sampai pentas di panggung.

Heru, penulis naskah yang terbiasa bekerja individual, membiarkan naskahnya dibedah. Tak ada sutradara tunggal, melainkan tim kreatif pengarah pentas, yang terdiri dari Jujuk, Heru, Butet, dan Djaduk Ferianto. Dalam praktiknya, Butet ikut mengisi cerita dan mengurusi keaktoran, sementara Jujuk mengurus detail permainan.

Generasi lama seangkatan Butet berusaha membuka diri terhadap generasi lebih muda, seperti Kusen Alipah Hadi, Rendra Bagus Pamungkas, hingga Very Ludiyanto.

Gaya sampakan Gandrik memberikan sumbangan berharga bagi dunia teater di Indonesia. Pendekatan ini berhasil menggamit keguyuban teater rakyat dan menyuntikkannya dalam bangunan teater modern. Sampakan juga mencairkan komunikasi dalam teater seraya membebaskan pentas dari jebakan-jebakan bentuk dan estetika teater modern yang kadang agak artifisial.

Lalu, apa lagi tantangan berikutnya?

”Gandrik semestinya bisa memperkuat gaya sampakan dengan berangkat dari problem nyata sehari-hari, permainan lebih wajar, dan meramu berbagai kritik secara lebih cerdas,” kata Wicaksono Adi, pengamat seni pertunjukan.



Bookmark and Share

Rabu, 26 Mei 2010

Maha

Saya ingin membagikan tulisan yang menarik perhatian. Pada halaman TREN, Kompas, Minggu 11 Mei 2010 oleh Samuel Mulia dengan judul tulisan ”Maha”.

...”Maha itu artinya ’besar sekali, paling, paling segalanya’.Jadi mahasiswa itu artinya siswa yang paling? Bisa paling kurang ajar, bisa paling santun? Apakah dengan predikat yang maha itu, mereka berhak mengenakan pakaian seperti baru bangun tidur, seperti yang saya perhatikan pada sore itu?

Saya tak tahu apakah maha dulu dengan maha sekarang punya arti yang berbeda, dan ditanggapi dengan berbeda pula. Apakah maha itu sebuah predikat yang juga mampu membuat seorang dosen berkeluh kepada saya sore itu. ”Mahasiswa sekarang senangnya bikin sakit kepala. Kalau lagi kuliah, main BB. Nanti kalau tidak lulus, datang kepada saya dan ngomong gini ”Pak, mbok tolong saya. Kalau saya nggak lulus, Bapak saya marah karena Bapak saya sudah tua dan uang yang dipakai sudah pas-pasan untuk menyekolahkan saya.” Di sisi waktu, ada yang mengatakan begini ”Pak, saya kan kerja selain kuliah. Mbok mohon pengertiannya.”

Karena maha kah mereka bisa melakukan itu? Apakah itu yang disebut perilaku maha? Tentu saya tak mau dihajar sejuta mahasiswa kala mereka selesai membaca tulisan ini, karena tak semua maha menjadi begitu. Tetapi, gambaran dan keluhan dosen pada sore itu membuat saya berkaca seperti biasa. Soal membuat orang lain bertanggungjawab atas kesalahan yang saya buat.

Mengapa saya begitu egoisnya menyeret orang untuk turut bertanggungjawab atas sesuatu yang tak mereka lakukan? Dan mengapa saya kemudian naik pitam karena mereka tak mau saya seret? Mahasiswa mau kerja sambil kuliah, atau mau tidak lulus dengan mengedepankan alasan kesulitan keuangan, itu juga buka urusan dosen. Itu keputusan si Maha, yang mau kerja sambil kuliah, dan yang mau tidak bertanggungjawab untuk kuliah dengan baik.

Kalau tidak mampu, jangan menyuruh manusia lain bertanggungjawab atas ketidakmampuan itu. Mungkin sebaiknya sedikit berpikir tenang sebelum menghadap dosen. Tanyakan kalau bisa beli BB, kok berkeluh uang kuliahnya pas-pasan?
Kalau dosen tak membantu si Maha mulai mengomel. Dosen sialan lah, dosen gitu lah, gini lah. Nanti kalau dibantu, si Maha jadi ngegosip, kalau dosen yang itu dan yang inu, mudah dirayu dengan mudah, hanya dengan menyodorkan alasan kelelahan batin serta fisik.
...Menjadi mahasiswa berarti diharapkan menjadi lebih dewasa ketimbang masa menjadi siswa SMA. Tetapi, pertanyaannya, dewasa seperti apa? Maha-kah mereka kalau samapai mampu membuat dosen pada posisi kefefet? Maha-kah mereka kalau di halaman pendidikan itu ada yang jualan narkoba, menghamili sesamanya, mencontek, bahkan mungkin ada yang menjadi pelacur? Pertanyaan lain muncul mengapa dosen tak disebut mahadosen?
Tanya :”Pak, kerja di mana?”
Jawab: ”Di universitas A.”
Tanya : ”Kerja sebagai apa, Pak?”
Jawab : ”Mengajar. Jadi dosen, Dik.”
Pernahkah Anda mendengar jawabannya begini ”Jadi mahadosen, Dik.”
Bagaimana dengan tanya jawab yang satu ini
Tanya : ”Dik, mahasiswa ya?”
Jawab : ”Ya, Mas.” atau ”bukan, Mas.”

Salam,

Bookmark and Share

Tentang Liturgi Perkawinan Katolik


Meninjau beberapa halaman web yang memberikan beberapa pendapat tentang Perkawinan Katolik dan Liturginya aku tertarik untuk membagikannya kepada kalian, salah satunya adalah tulisan dari Rm. Justinus (http://mbahjustinus.wordpress.com/) tentang usaha memahami Sakramen Perkawinan yang lebih bernuansa teologis daripada praktis.

Saudara-saudari terkasih,
Usaha memahami Sakramen Perkawinan secara “baru” ini saya gulirkan dalam beberapa tulisan. Mengapa “secara baru”, karena gagasan ini saya tuangkan dalam rangka memperdalam gagasan retret para imam Keuskupan Purwokerto (10-14 Nov 2008) di Purwokerto bersama Fr Fio Mascarenhas dari India, yang menekan pentingnya relasi umat beriman dengan Tritunggal Mahakudus.
Tulisan ini dibagi menjadi 2 bagian: (A) Suami isteri sebagai mitra kerja Allah dan (B) Peran suami isteri sebagai imam, nabi dan raja.

A. Suami isteri sebagai “mitra rekan kerja Allah”
Dalam Perayaan Sakramen Pernikahan, kita sering mendengarkan Sabda Tuhan yang diwartakan seperti ini, “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mrk 10:6-9)
Sabda Tuhan yang menegaskan kebersatuan suami isteri itu dan sifat monogaminya, juga ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, kan. 1056:
“Ciri-ciri hakiki perkawinan ialah unitas (kesatuan=monogami) dan indissolubilitas (sifat tak-dapat-diputuskan), yang dalam perkawinan kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen.”
Sifat monogami dan sifat tak dapat diputuskan itu tentulah dimengerti oleh para calon suami isteri sebelum mereka mengucapkan kesepakatan janji nikah. Janji nikah yang diucapkan pria dan wanita yanga dibaptis, dan diucapkan di hadapan Allah dan Gereja, mereka berdua telah “saling menerimakan sakramen perkawinan”. Kesepakatan nikah pria dan wanita yang dibuat dengan tahu, sadar dan bebas dari segala paksaan apapun, adalah keputusan untuk “menjadi mitra Allah” dalam karya keselamatan-Nya.
Suami isteri menjadi “mitra Allah” dengan “hidup dalam persekutuan sebagai “Gereja keluarga”. “Apakah artinya “persekutuan” bagi suami isteri? Artinya, saat mengucapkan janji nikah di hadapan Allah dan Gereja, suami isteri saling “menukar” hidup dan pribadinya. Suami menyatakan “engkau isteriku, seluruh dirimu kugantikan dengan diriku. Demikian juga isteri bersedia “engkau suamiku, seluruh dirimu kugantikan dengan diriku”. Maka dengan pertukaran itu, suami dapat memandang dan memperlakukan isterinya, sebagai “dirinya sendiri” , sebaliknya begitu. Dengan kata lain, suami isteri saling mengarahkan jerih payahnya untuk hidup pasangannya, bukan hidup dirinya sendiri. Itulah “mengasihi sesama seperti dirinya sendiri” dalam keluarga. Kasih antar sesama itu dapat menjadi “tanda kasih yang hidup dari kesetiaan kasih Allah kepada manusia.

Allah Bapa tidak menyesal menciptakan manusia, meskipun Adam dan Hawa, akhirnya jatuh dalam dosa asal. Keturunan merekapun satu per satu, bergantian, turun temurun, dari generasi satu ke generasi yang lain, mewarisi dosa asal. Maka setelah melalui sejarah yang berliku-liku, Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal, Yesus untuk hidup dan tinggal bersama manusia.
Kristus itulah yang melaksanakan tugas untuk menebus dosa manusia, dengan hidup dan wafat-Nya di kayu salib. Tugas itu dilaksanakan dengan sempurna oleh Kristus sehingga Allah tidak segan untuk meninggikan “Dia di atas segala nama”, dengan membangkitkan-Nya pada hari ketiga. Kebangkitan itu menganugerahkan kebebasan sebagai anak-anak Allah. Akan tetapi kebebasan itu tidak serta merta ditanggapi manusia untuk hidup di dalam Roh, mengasihi Allah dan sesama, malahan kerap kali kebebasan itu disalahgunakan untuk “bekerjasama dengan kuasa kegelapan dosa”, yakni hidup menurut daging. Karena itulah, Yesus mengutus Roh-Nya sendiri setelah 50 hari kebangkitan-Nya agar manusia mampu memenangkan pertempuran antara kehendak untuk hidup dalam Roh dan kecenderungan hidup dalam kegelapan dosa

Dengan lain kata, keputusan pria dan wanita untuk hidup menikah, adalah buah Roh Kudus, yakni menggunakan kebebasannya sebagai anak Allah untuk mewujudkan panggilan dasarnya sebagai citra dan anak-Nya untuk mencintai seperti Allah mencintai manusia. Panggilan dasar itu diwujudkan dalam hidup pernikahan. Maka sakramen pernikahan memperbaharui buah buah sakramen pembaptisan. Buah sakramen pembaptisan, tidak hanya mendapat anugerah kebebasan sebagai anak Allah, melainkan juga memberi daya kekuatan untuk menggulirkan kebebasan itu dalam tiga perannya: sebagai imam, nabi dan raja.

B.Tiga peran Suami Isteri dalam kemitraan dengan Allah
Suami isteri kristiani sebagai orang yang dibaptis telah dipercaya menjadi anak-Nya sekaligus ahli waris. Karena itu mereka dipanggil untuk menjadi imam, nabi dan raja
Sebagai imam, suami isteri dipanggil untuk membangun relasi yang intim dengan Allah. Relasi itu dibangun dengan “merayakan iman” dan “mewujudkan iman dalam tindakan kasih.” Tugas merayakan iman adalah kesediaan untuk berdoa: berbicara dengan Tuhan dalam berbagai macam kesempatan. Termasuk juga, yang harus dibuat, belajar minta Roh Kudus kepada Allah Bapa karena Roh Kudus tidak otomatis dianugerahkan kepada kita, melainkan Ia akan hadir dan terlibat dalam hidup kita.
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Luk 11, 13)”
Roh Kudus sudah hadir di tengah tengah kita, namun bagaimana kita mampu mengalami karya Roh itu kalau tidak membuka diri. Ibarat bagaikan orang yang mencari sinar matahari di pagi hari sampai siang, padahal dia terus menerus tinggal di gua dan tidak pernah mau keluar dari gua itu. Maka, penting dan mendesak, jangan ragu-ragu untuk meminta Roh Kudus kepada Bapa agar terlibat membantu memberikan pencerahan di saat banyak kesulitan.
Sikap hidup “yang melibatkan Roh” itu pasti akhirnya menantang suami isteri untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap fasilitas yang nampaknya dapat diandalkan. Dengan lain kata, melibatkan Roh dalam hidup bersama, berarti jerih payah apapun suami isteri dapat menjadi korban persembahan bagi Tuhan kalau dilaksanakan “demi kepentingan terwujudnya buah-buah Roh, ” kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.’ (Gal 5:22-23)
Sebaliknya jerih payah suami isteri, bahkan yang kelihatan luhur sekalipun tidak akan menjadi “kurban persembahan bagi Allah” kalau dilaksanakan demi “kepentingan sendiri” atau demi kepentingan “daging”. Karena hidup dalam daging, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu,” penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal 5: 21)
Dengan kata lain peran sebagai imam menuntut peran sebagai “raja”, yang memiliki sikap “proaktif untuk melayani sesamanya”. Mereka tidak akan berbangga kalau menjadi pribadi yang suka disapa, atau jadi pribadi yang ditakuti pasangan hidup atau anaknya sendiri. Allah sendiri menganugerahkan Roh sebagai anak Allah bukan roh perbudakan yang membuat kita takut.”Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:14-15) Dengan keyakinan Santo Paulus ini, suami isteri dipanggil untuk menampilkan hidup sebagai anak Allah. Hidup sebagai anak Allah selalu terarah pada kepentingan Bapa, dan bukan kepentingan harga diri sendiri. Maka, suami isteri mesti belajar untuk dinilai dan dikritik oleh pasangannya. Kalau keliru, belajar cepat meminta maaf, tidak malahan membela diri dan berargumentasi bahwa dirinya benar. Kalaupun benar pendapatnya, lebih baik mengatakan, “Terima kasih atas kritikanmu! Iya, bisa jadi saya keliru, meski sekarang saya yakin pendapatku ini benar!” Keterbukaan seperti itulah, yang meningkatkan kualitas pribadi yang siap untuk diubah oleh Roh Kudus.
Dengan semangat itu, suami isteri dapat mewujudkan sakramen perkawinan: sebagai tanda kehadiran cinta Tuhan yang nyata, yakni,

(i) menjadi tanda cinta Allah Bapa Sang Pencipta dan pemelihara hidup melalui prokreasi, merawat dan mendidik anak sampai mandiri,
(ii) menjadi tanda kasih Yesus yang menebus dosa manusia dengan mengampuni satu sama lain, tidak menghakimi, namun belajar untuk mengubah kelemahan pasangan menjadi kesempatan untuk berefleksi dan
(iii) belajar untuk menjadi tanda kehadiran Roh Kudus yang menyertai kita sepanjang hidup, dengan belajar mendengarkan dan berkanjang bersama: tidak saling melempar kesalahan, tidak saling melempar tanggung jawab, melainkan belajar setia, yakni sehati seperasaan dalam suka dan duka.

Ketiga tindakan itu berwarna Trinitaris, maka ketiga tindakan itu tidak terpisahkan. Tidak cukup pasutri hanya prokreasi dan mendidik anak tanpa pengampunan dan solider antara suami isteri dan antar orang tua dan anak. Dengan cara hidup macam seperti suami isteri menjadi “tanda cinta yang hidup dari kesetiaan Allah kepada manusia”.
Akan tetapi bagaimana penghayatan itu sampai pada kenyataan kalau suami isteri kurang membuka diri kepada sabda Allah. Karena itu peran sebagai imam dan raja, mesti didukung dengan peran sebagai nabi, yang bersedia mendengarkan sabda Allah dan melaksanakan dalam hidup setiap hari. Sabda Tuhan itu adalah roh dan kehidupan. Maka suami isteri ditantang untuk hidup dari Sabda agar mereka memiliki “roh dan kehidupan” karena “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”(Yoh 6:63). itulah sebabnya Petrus pun setia mengikuti kemana Yesus pergi karena “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68). Kata-kata Yesus itu sendiri meneguhkan kita semua, agar tidak lagi ragu-ragu untuk setia mendengarkan Sabda Tuhan agar kita mengenal siapa Kristus, dan terlebih agar kita memiliki roh dan hidup!! Maka suami isteri ditantang untuk sungguh berperan sebagai “nabi”: menjadi tanda kehadiran Allah yang bersabda bagi pasangannya, anak-anaknya dan saudara-saudarinya.
Dengan penghayatan begitulah, pasutri membawa hidupnya dalam persembaan di altar dalam ekaristi. Hidupnya dengan segala kerapuhan dan kelemahan dipersembahkan bersama kurban Kristus, agar saat komuni terjadilah “pertukaran ilahi”: Kristus hadir dalam diri suami isteri untuk menerima hati mereka dengan segala keletihan dan rasa lesu serta beban berat, dan menggantikannya dengan Tubuh dan Darah-Nya, agar setelah ekaristi, hidup mereka dalam keluarga sungguh menampilkan hidup Kristus yang setia pada Gereja-Nya. Karena itu Kristus yang setia pada Gereja-Nya membutuhkan suami isteri untuk bekerjasama, agar kesetiaan Kristus tampak bagi dunia. Di situlah tugas suami isteri, “menampakkan” kesetiaan kasih Kristus bagi dunia.
Dengan “menampakkan kesetiaan” itu dalam hidup bersama yang diwarnai kasih, suami isteri menjadi tanda “pertukaran ilahi” antara Kristus dengan manusia. Itulah “pertukaran” yang menjadi ciri khas “persekutuan suami isteri monogami dan tidak terceraikan”. Semoga makin banyak pasutri kristiani yang menjadi tanda kasih Allah yang hidup bagi dunia.salam hangat untuk pasutri dan keluarga kristiani di manapun berada.
Ibadat Sabda dan Liturgi Perkawinan Katolik

Sebagai salah satu persiapan perkawinan, kami berniat untuk menyusun buku ibadat sabda serta liturgi ekaristi penerimaan Sakramen Perkawinan dengan memperhatikan hal-hal yang penting dalam penyusunannya. Lebih lengkap Anda yang berkeinginan sama dengan kami bisa mendapatkan acuan penyusunan teks ekaristi dengan lagu-lagu ekaristi khusus Perkawinan di toko buku Kanisius.
Sebagai alternatif lain saya mencoba untuk browsing tentang Liturgi Ekaristi Sakramen Perkawinan dan mendapatkan blog yang lengkap memaparkan ibadat sabda dan liturgi ekaristi yang berkaitan dengan perkawinan. Apabila ada membutuhkan teks tersebut, Anda bisa mengunjungi blog http://sperkawinan.blogspot.com, atau download link dengan dokumen yang telah kuubah menjadi ekstensi .pdf.

Salam,

Bookmark and Share

Kamis, 13 Mei 2010

Self Reframing

Berikut ini artikel untuk merubah Cara Pandang di dalam diri sendiri (Self Reframing) - dari milis kampung sebelah - semoga bermanfaat juga untuk teman2:

1.TAKLUKKAN DIRI SENDIRI
“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat.
Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)
Perenungan Diri:
1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.
2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.
3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”
4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.
5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.
6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.
8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…
Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?

2. BELAJAR DARI KEKALAHAN
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )
Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
- Duduk diam dan tarik nafas panjang
- Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
- Ambil pelajaran dari kekalahan itu
- Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
- Hembuskan nafas secepat mungkin
- Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.

3. PELAUT TANGGUH …(by WS Rendra)
(Bayangkan WS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan baca lirik di bawah ini, bak WS Rendra)
Hidup adalah rangkaian masalah.
Jika kita melihatnya sebagai masalah.
Hidup adalah rangkaian tantangan.
Jika kita melihatnya sebagai peluang.
Tantangan penting untuk otot pikiran.
Tantangan membuat kita bertumbuh.
Tantangan membuat kita kreatif.
Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.
Karena artinya kita memiliki peluang.
Ya, sebuah peluang untuk Menang.
Pepatah kuno mengatakan:
“Lautan yang tenang,
tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”
Atasilah masalah dengan:
Tetaplah tersenyum.
Tetaplah bergandengan tangan.
Kita hanyalah berbeda, itu saja.

4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES
“Tidak Ada Jalan yg Mulus utk Sukses,
Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )
Perenungan Diri:
Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat
otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan
“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.
“Anda tidak mungkin memahami Work Smart,
sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)
Situasi Indonesia boleh tidak menentu,
tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.
Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.

5. SIAPA YANG KAYA?
“Siapa yang kaya?
Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)
Perenungan Diri:
Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat
kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai
sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri
saja bahwa hal ini benar.

6. CHOOSE TO BE HAPPY
We always have a choice
We can choose to be happy
or we can choose to be grumpy
But It’s always better, smarter and wiser
to choose to be happy… (Melody Ross)
Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”

7. SETIA PADA HAL KECIL
Bukan tindakan besar dan hebat,
yang menentukan hidup kita,
melainkan kesetiaan dalam menekuni
pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)
Perenungan Diri:
Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap.
Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan.
Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap.
Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.
“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”
“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”
Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna.
Dan, tekad besar untuk menelannya.
Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita.
Karena sang musuh adalah di ego diri.
Tapi, mungkin!

8. IMPIAN PERLU UJIAN
kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita disiniskan
kala warna semangat mulai meluntur
kala impian membuat hati bias
justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan
bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin
(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji
diuji untuk membangun keyakinan
keyakinan untuk mencapainya

9. TUM SPIRO, SPERO
“Tum Spiro, Spero” artinya:
“Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”
Buanglah kata menyerah dalam hidup ini.
Hidup ini sangat berarti, berkaryalah.
Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa.
Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.
Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.
Hening membuat bening…
Bening membuat jelas…


Salam,

Bookmark and Share

Jumat, 07 Mei 2010

BURKUTCHU – Si Pemburu Elang


Sebuah kisah perjalanan yang ditulis oleh seorang backpacker Indonesia, jurnalis, fotografer, Agustinus Wibowo (http://avgustin.net/)

Wajah Mongolia ini barangkali jauh dari bayangan banyak orang, tatkala Agustinus Wibowo merekamnya pada musim gugur lalu: sabana hijau beralih menjadi samudra salju, dan para pengelana berpindah dari kemah nomaden ke gubuk-gubuk kayu agar lebih hangat. Inilah negeri tempat tradisi ribuan tahun tetap hidup dengan jaya di dalam diri para pemburu serta elang-elang raksasa yang merajai angkasa raya.

Musim panas lewat diam-diam, meninggalkan jejak di padang rumput yang cokelat kekuningan. Mongolia—yang terkungkung di tengah daratan mahaluas—tiba-tiba sunyi dari hiruk-pikuk para pelancong. Semua wisatawan bergegas meninggalkan negeri itu di ambang musim gugur. Hawa dingin menjalar cepat dan sungguh tak bersahabat. Salju melumat seluruh negeri sejak pertengahan September. Suhu anjlok dari hari ke hari. Kehijauan padang rumput beralih menjadi samudra putih yang menggentarkan hati.

Mongolia adalah tanah yang ramah, hangat, dan indah pada Juni hingga Agustus. Di musim panas singkat ini, matahari terbit di waktu subuh, bersinar terik sepanjang hari, dan terbenam menjelang tengah malam. Tapi musim gugur datang terlalu cepat, sebelum orang tanak menikmati sinar surya.

Angin dingin dan salju September hanyalah ”pembuka” sebelum Mongolia mengarungi hari-hari dengan temperatur jauh lebih ganas: bisa minus 60 derajat Celsius. Embusan napas langsung menjadi es, darah membeku, pembuluh perih tak keruan. Seperti Siberia, kata Anda. Mongolia tak jauh berbeda, kata saya.

Di ujung barat, di Provinsi Bayan Olgii, kita berhadapan dengan realitas Mongolia yang lain. Lupakan kaum shaman yang masyhur, karena di sini berdiam bangsa minoritas Kazakh pemeluk Islam. Lupakan tenda-tenda putih bangsa nomaden, karena bangsa Kazakh (walaupun di musim panas tinggal di tenda seperti bangsa Mongol) kini sudah pindah ke rumah kayu yang hangat untuk melewatkan ganasnya musim dingin.

Tapi lelaki Mongolia tetaplah pria-pria yang dipilih Genghis Khan untuk menaklukkan dunia. Sementara lelaki Jawa memelihara perkutut dalam sangkar, pria Mongolia sampai kini memelihara budaya yang nyaris punah: berburu elang. Sebuah tradisi yang melibatkan kegagahan, keberanian, kejantanan.

***

Elang itu mengepakkan sayap lebih panjang daripada rentang tangan orang dewasa. Di langit biru mahaluas, hewan raksasa itu melesat, melayang lambat, terbang mengitar, bermanuver dan berakrobat, mengincar sesuatu dengan matanya yang awas. Lalu hap… burung itu menukik tajam ke arah kami yang tengah memandang di daratan dengan terkagum-kagum.

Seorang pria Kazakh mengendalikan kuda dengan anggun. Kepalanya mendongak, matanya menyipit, perhatiannya hanya terpaku pada elang di angkasa. Tubuh lelaki tangguh ini berbalut baju dari bulu tujuh ekor serigala. Topinya menjuntai lebar, dibikin dari bulu kaki rubah. Dia lebih mirip hewan berbulu, sebuah kamuflase bangsa pemburu yang mengincar mangsa di alam liar. Di mata saya, lelaki Kazakh ini seperti datang dari abad pertengahan melalui mesin waktu.

Tangan kirinya mengendalikan kuda yang berlari cepat. Tangan kanannya terbungkus sarung tebal dari kulit hewan, terulur menengadah. Di atas telapak tangannya, ada seiris kecil daging merah.

Dalam sekejap, burung itu melesat dari awang-awang, menukik tajam. Sssttt… sssttt… sssttt… hanya terdengar kepakan sayap yang membahana di tengah embusan angin dingin. Burung itu mendarat di atas telapak tangan si penunggang kuda. Kakinya yang tajam mencengkeram erat-erat tangan kanan yang terbungkus sarung tebal. Tanpa perlindungan ini, kulit manusia bisa hancur tercabik oleh kuku elang, yang setajam pisau tukang jagal. Dengan kuku yang sama, burung raksasa ini bisa membunuh domba, rubah, kelinci, hingga anak sapi dan serigala.

Penonton bersorak girang. Penonton? Ya, ini acara tahunan Golden Eagle Festival, tempat berkumpulnya pemilik elang jagoan dari seluruh penjuru Bayan Olgii. Lelaki berkuda yang ditepuki itu menyeringai bangga. Elang peliharaannya terbukti tangguh. Burung seberat tujuh kilogram itu terbang dari puncak bukit yang menjulang tinggi ratusan meter di belakang lapangan, tapi masih bisa dengan titis menyambar sejumput kecil daging segar yang dibawa pemiliknya.

Keawasan mata Aquila chrysaetos, golden eagle, alias elang besar dari Pegunungan Altai di Mongolia Barat adalah yang terbaik di dunia. Jarak pandangnya sampai sepuluh kali lebih tajam daripada penglihatan manusia normal.

Dalam bahasa Kazakh, pria yang menyeringai itu dikenal sebagai burkutchu, dari kata burkut, yang artinya elang, dan chu, ahli. Dalam bahasa Inggris, mereka disebut sebagai falconer atau eagle hunter, pemburu elang. Jangan salah, pemburu elang tidak memburu elang, tapi berburu bersama elang. Namun, tentu saja, sebelum memiliki elang pemburu, mereka harus benar-benar memburu sendiri elang yang akan dipelihara.

Sejak ribuan tahun lalu, elang menjadi alat berburu yang mematikan. Tak perlu senapan, peluru, racun, atau jala. Pertandingan ketitisan elang yang diterbangkan dari puncak gunung untuk memburu mangsa di lapangan adalah penyederhanaan kultur perburuan bersama elang.

Dulu, olahraga ini dimonopoli kaum ningrat. Konon Kaisar Mongol Genghis Khan punya pasukan elite pemburu sekaligus pawang rajawali. Cucunya, Kubilai Khan, sering mengadakan ekspedisi raksasa perburuan bersama ribuan rajawali pilihan. Seiring dengan meluasnya kekuasaan imperium Mongol, tradisi ini menyebar hingga ke Eropa dan Arab. Kini kepemilikan rajawali dan elang beralih ke para syekh Arab yang bergelimang harta.

Namun jangan bandingkan bangsa-bangsa itu dengan kebanggaan orang Kazakh akan elang dan rajawali. Di sini, elang tak hanya muncul dalam simbol-simbol, hikayat, atau mitologi. Elang adalah bagian hidup nyata. ”Sejak bangsa Kazakh terlahir ke bumi, kami sudah menjadi pemburu elang,” kata Baydi, kakek tua dari Bayan Olgii, yang sudah lebih dari 50 tahun menjadi pemburu elang.

Baydi adalah salah satu tetua pawang elang Kazakh Mongolia. Di sekujur tubuhnya, segala kisah perburuan seolah melekat: pada keriput wajahnya, sejumput jenggot putih yang menjuntai, topi bulu rubah yang memahkotai kepalanya, balutan jubah hitam kebesarannya, juga kudanya yang perkasa. Elang Kakek Baydi tampak garang dengan paruh bengkok tajam, membuatnya seperti tokoh legenda klasik yang kesasar di dunia modern. Saya membayangkan, kala bangsa Kazakh ”terlahir” ke dunia ribuan tahun silam, penampilan mereka boleh jadi tak berbeda dengan Baydi.

Atamurat adalah nama pemburu lain dari generasi lebih muda. Dua elang besar hidup bersama keluarganya di kemah dan di rumahnya yang sempit. ”Tentu saja burung elang ini lebih bahagia hidup di rumah saya daripada di alam liar,” katanya dengan bangga. Berasal dari Dusun Tsengel, lelaki 43 tahun ini tergolong baru di dunia perburuan elang. ”Alhamdulillah, elang saya sudah berumur satu tahun. Bisa kau lihat sendiri betapa hebatnya ia.”

Elang milik Atamurat sudah setinggi lutut—posturnya tak jauh berbeda dibanding elang para pemburu lain. Baru saya tahu, ternyata bayi elang tumbuh pesat pada usia pertama. Setelah mencapai ukuran standar, ukuran tubuh elang tak banyak berubah lagi sampai akhir hayatnya.

Atamurat bercerita, elang miliknya dia culik dari puncak gunung ketika hewan ini masih bayi mungil, dan berkaok malang di sarang, menantikan induknya membawa makanan. ”Berbahaya? Tentu saja! Induk elang adalah hewan terganas di dunia, apalagi kalau melihat anaknya diculik atau disakiti,” kata Atamurat.

Atamurat dan para pemburu lain tak merasa berdosa memisahkan bayi elang dari induknya. ”Saya justru membuatnya lebih berbahagia,” ujarnya. ”Di alam liar, betapa susahnya mereka memburu mangsa. Di rumah saya, setiap hari saya menyediakan daging segar,” kata Atamurat.

Lauren, falconer asal Amerika Serikat, punya pendapat berbeda dengan Atamurat. Menurut Lauren, elang jagoan itu bukan bayi elang yang diculik dari sarangnya, melainkan elang dewasa yang ditangkap dari alam liar. Bayi elang adalah makhluk lugu yang masih disuapi. Tapi elang dewasa yang sudah pernah memburu mangsa jauh lebih tangguh. Ia sebenarnya sudah siap jadi pemburu, tak perlu lagi banyak dilatih. ”Mata, kaki, paruh, dan sayapnya, semua sudah sempurna,” ujar Lauren.

Gadis muda ini adalah satu dari sekitar 5.000 falconer di Amerika. Dia mendapat beasiswa Fulbright untuk mendalami tradisi berburu elang di Bayan Olgii. Lauren beruntung bisa memperdalam pengetahuannya langsung bersama para pemburu Kazakh.

Elang, menurut Lauren, adalah hewan yang pintarnya sedang-sedang saja serta mudah cemburu. Manusia memanfaatkan kecemburuan itu untuk menjebaknya. Istilahnya: jealousy trick. Caranya? Daging rubah atau serigala segar ditaruh di tanah lapang. Lalu kumpulkan burung predator lain. Misalnya gagak, rajawali, atau alap-alap.

Nah, sebagai raja angkasa, elang tak sudi melihat burung-burung predator kecil yang kalah perkasa itu berpesta-pora, sementara ia sendiri kelaparan. Dengan kepakan sayapnya yang kuat, ia meluncur untuk menyambar umpan tadi. Hap…. Begitu mendarat, dia langsung dikurung oleh jaring-jaring yang dipasang para pemburu di sekeliling jebakan. Semakin kuat ia mengepak, semakin erat jaring-jaring membelitnya. Nasibnya akan segera ditentukan oleh si pemburu. Sebab, tak semua elang yang tertangkap langsung dipelihara dan dijadikan hewan pemburu.

Para burkutchu hanya senang memelihara elang betina. Selain lebih ganas, ukurannya jauh lebih besar daripada para pejantan. Elang pemburu juga tak boleh terlalu tua. Idealnya berusia satu hingga dua tahun.

Setelah ditangkap, burung itu harus dilatih dulu untuk disiapkan menjadi pemburu yang tangguh. Hari-hari pertama adalah yang paling berat. Burung itu akan terus berontak. Hewan malang itu dibiarkan lapar berhari-hari. Ia harus belajar bahwa ia bukan lagi makhluk merdeka. Ia harus belajar mengenal siapa tuannya, siapa pemiliknya, yang akan menentukan nasibnya.

Sang pemburu akan meletakkan burung itu di atas tangannya sepanjang hari sembari memberikan umpan daging mentah. Dengan sigap elang itu akan menyambar daging. Tapi tidak, tidak semudah itu. Pemburu dengan sigap menarik kembali elang yang terikat kakinya. ”Kenali dulu siapa pemilikmu, baru engkau boleh makan”. Demikian berhari-hari elang itu ”disiksa” sehingga ia melepaskan keliarannya dan berubah menjadi makhluk yang patuh.

***

Hewan raksasa itu merana. Matanya tertutup tudung hitam. Kakinya terikat rantai. Ia tak beranjak dari balok kayu di sudut ruangan. Sayapnya terkadang mengepak, punuknya sesekali berdiri, paruhnya membuka, memamerkan keg anasan sang raja angkasa. Tapi ia terpenjara, di sudut rumah sederhana milik Manaa, sang pemburu elang.

”Ini burkut istimewa,” kata Manaa, pria 60 tahun, sembari terkekeh, ”Dia calon juara besar.” Jenggot Manaa sudah memutih, dan kerut yang dalam menghiasi wajahnya yang sepuh. Duduk di atas kursi kayu rendah, sambil menyeruput teh hitam asin, Manaa tak henti berkisah tentang kegagahan elangnya.

Tapi, di sudut ruangan ini, kegagahan itu terlunturkan oleh reyotnya rumah Manaa, oleh rantai besi yang mengikat kaki tajamnya, oleh tudung mata hitam yang membutakannya. Ia ibarat bangsa besar yang telah dilucuti kebang- gaannya, terkulai tak berdaya.

Mengapa elang peliharaan Manaa ini harus dibutakan sepanjang hari?

Elang adalah binatang yang teramat aktif, kata Manaa. Ketika matanya dibuka, ia akan memindai segala penjuru, mencari mangsa. Ia menjadi liar, mengepakkan sayap, siap terbang dan menerkam. Tapi di rumah ini mana ada mangsa? Bisa-bisa dia menghabiskan energinya sendiri.

”Otak burkut itu sebenarnya sederhana. Begitu matanya ditutup tudung, pikirannya cuma satu: malam sudah tiba. Binatang ini jadi mengantuk, tenang, kalem. Ia tidak melakukan hal tak perlu seperti mengincar mangsa, mengepakkan sayap, atau memberontak.”

Manaa menamai elangnya Sary Tenek. Sary artinya kuning, dan tenek berarti elang berusia dua tahun. Sebagai bangsa pencinta elang, Kazakh punya lebih dari sepuluh kata spesifik untuk menyebut elang pada berbagai tahapan umur.

Setiap hari dia menyediakan setengah kilogram daging domba untuk Sary. Tapi Manaa sengaja membuatnya kelaparan, supaya Sary lebih beringas ketika musim perburuan tiba. Elang itu hanya diberi makan malam hari, ketika tudung mata dibuka. Bret… bret… sayapnya mengepak mengikis kesunyian malam. Paruhnya yang bengkok menyeringai seram. Bulu punuknya berdiri tegak. Kepalanya berputar ke segala penjuru, dan matanya tajam. Dengan rakus, elang itu menyantap potongan daging di atas telapak tangan Manaa yang dibungkus sarung tebal.

”Memelihara elang sama sekali bukan untuk memperkaya diri, kau tahu itu,” kata Manaa. Lebih-lebih di musim panas, ketika hewan ini sama sekali tak mampu berburu, ”Kami harus menghidupinya dengan lima kilogram daging. Seekor domba hanya cukup untuk makanan elang tiga hari saja Tak mudah, karena kami pun orang miskin. Biarlah keluarga ini kelaparan,
asalkan elangku tetap kenyang,” tutur Manaa.

Elang ini bukan sekadar binatang peliharaan atau senjata perburuan. Ia menjadi bagian keluarga penggembala tua ini, bahkan bagian dari masa depan. Sedari kecil, anak-anak Manaa sudah dilatih untuk menangkap dan berburu bersama elang.

Saya memandang elang itu lekat-lekat. Ia tengah mencengkeram kuat-kuat balok kayu di sudut kamar. Sayap bulunya mengembang, gagah dan indah. Perburuan elang adalah gabungan kecintaan kepada alam, ketangguhan lelaki pengembara, kebanggaan suku bangsa padang rumput. Perburuan elang adalah seni dan tradisi turun-menurun. Di dalamnya ada semangat bertahan hidup, dan keberanian menaklukkan tantangan.

Manakala bangsa-bangsa di padang Asia Tengah sibuk mencari identitas dan eksistensinya, orang Kazakh dengan bangga memamerkan burung elang mereka.

Hari itu, pada musim panas lalu, saya berdiri di tanah lapang luas bersama ribuan manusia dari segala penjuru Bayan Olgii. Mereka dating untuk menonton Golden Eagle Festival. Mereka ingin menyaksikan para pemburu beraksi bersama elang-elang jawara. Melayang dari puncak bukit tinggi menjulang, raja angkasa itu dengan titis menyambar sejumput kecil daging segar di tangan pemiliknya.

Seseorang berkata kepada saya: ”Tataplah mata elang yang jernih tajam itu jika berani. Di dalamnya, engkau akan melihat senyum kemenangan lelaki Kazakh.”

————————————————————–

Catatan Tambahan:
Kazakh
>> Kazakh adalah satu bangsa pengembara yang mengarungi padang-padang rumput Siberia, Mongolia, hingga Asia Tengah. Selama ribuan tahun mereka berkelana bersama kawanan ternaknya, dari padang ke padang. Mereka mencari surga rerumputan segar, aliran sungai yang menghidupkan, dan hewan buruan yang boleh dimangsa.

>> Tanah tumpah darah bangsa Kazakh, kini menjadi Republik Kazakhstan, sempat dijajah Rusia. Pemerintah komunis Uni Soviet berusaha keras menghapuskan tradisi nomaden, termasuk perburuan elang. Setelah seratusan tahun dijajah Rusia, tradisi ini berada dalam bayang-bayang kepunahan.

>> Justru di Mongolia, tempat bangsa Kazakh hidup sebagai minoritas di pedalaman, perburuan elang masih bertahan hingga kini.


Rekomendasi sari saya :
Agustinus Wibowo telah menerbitkan sebuah buku tentang perjalanan backpacker di Afganistan "Selimut Debu". Membaca buku tersebut membuka pikiran kita tentang bumi dan pribadi Afganistan.

Bookmark and Share

Pengaruh Bahan Kimia Pada Manusia

Antara satu zat kimia dengan zat kimia lain dapat menimbulkan interaksi atau saling berpengaruh satu sama lainnya. Efek yang terjadi dapa...