Tampilkan postingan dengan label AAK Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AAK Nasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Apakah Anda Obesitas ?




Sering dalam obrolan sehari-hari kita menemui kata obesitas. Ada yang menyamakan dengan kegemukan meski tidak tepat betul. Kegemukan dan obesitas adalah kondisi ketika seseorang memiliki total lemak tubuh yang berlebihan dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan.
Ada beberapa macam cara pengukuran untuk menentukan berat seseorang normal atau obesitas.

  • Indeks Massa Tubuh (IMT) Cara menentukan derajat obesitas yang paling sering dipakai adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). Caranya dengan mengukur tinggi badan, TB, (dalam meter) dan berat badan, BB, (dalam kilogram). Nah, IMT = BB/(TB)2.
    Menurut badan PBB yang mengurusi kesehatan (WHO), IMT orang normal adalah 18,5 – 24,9. Jika kurang dari 18,5 dikatakan kurus, sedangkan 25 ke atas disebut obesitas, yang dibagi pula dalam obesitas derajat 1 (IMT 25 – 29,9), obesitas derajat 2 (IMT 30 -39,9) dan obesitas derajat 3 atau morbid/severe obesity (IMT 40 atau lebih).
    Untuk lebih mudahnya, kita memakai angka 20, 25, dan 30. Bila IMT di bawah 20 disebut kurus, 25 ke atas dikatakan gemuk, dan IMT 30 atau lebih dinamakan obesitas. Sedangkan di antara kategori kurus dan gemuk dimasukkan kelompok berat badan normal.
    Pengukuran IMT ini tidak akurat pada orang tertentu, misalnya binaragawan atau atlet (otot mempunya berat lebih daripada lemak), anak, orang tua, wanita hamil, atau orang dewasa yang pendek (tinggi badan kurang dari 150 cm).
    IMT juga kurang tepat bila dipakai untuk mengukur obesitas anak. The International Obesity Task Force pada tahun 1997 menggunakan BMI Percentle Chart, dengan batas 85 dan 95 centile. Batas rendah setara dengan anak yang gemuk, batas yang tinggi adalah anak obesitas. Jadi batas centiles itu adalah kira-kira batas IMT 25 dan 30 bagi orang usia 18 tahun.
    Obesity Chart
  • Lingkar pinggang (LP) Cara lain menentukan obesitas adalah dengan mengukur lingkar pinggang. Orang yang akan diukur harus berdiri dan rileks, baju dinaikkan, perlahan-lahan mengeluarkan nafas, kemudian lingkarkan pita pengukur di pinggang. Minta bantuan orang itu memegang salah satu ujung pita atau melingkarkan pita pengukurnya. Pita itu harus tepat melewati titik di samping tubuh, di antara ujung bawah tulang iga dan ujung atas tulang panggul, serta di titik tengah tubuh, 1 cm di bawah pusar. Bila setiap kali mengukur lingkar pinggang dilakukan oleh pengukur yang sama, hasilnya akan lebih dapat dipercaya.
    Lingkar pinggang yang normal atau sehat adalah di bawah 88 cm (35 inci) untuk wanita dan di bawah 102 cm (40 inci) untuk pria. Di Asia, kita memakai criteria obesitas sentral >= 90 cm untuk lingkar pinggang pria dan >= 80 cm untuk wanita.
    Mengukur Lingkar Pinggang
  • Rasio pinggang - panggul (RPP) Perbandingan dari ukuran lingkar pinggang (waist circumference) dan ukuran lingkar panggul (hip circumference) disebut sebagai rasio pinggang-pinggul. Bila RPP 0,95 atau lebih pada pria dan 0,8 atau lebih pada wanita, maka orang tersebut masuk kategori obesitas.
    LP dan RPP erat hubungannya dengan kecenderungan seorang terkena diabetes. Semakin tinggi ukuran LP dan RPP seseorang, maka semakin mudah ia menjadi pengidap diabetes.
Jadi, berat badan yang sehat atau ideal adalah berat badan yang bukan underweight, bukan pula overweight atau obesitas, yaitu IMT 20 -25, lingkar pinggang di bawah 88 cm untuk wanita dan di bawah 102 cm untuk pria
 
salam sehat.
 
 


Bookmark and Share

Jumat, 03 Mei 2013

Uji Borax Pada Makanan (Cara Sederhana)

Saat mengolah makanan selalu diusahakan untuk menghasilkan produk makanan yang disukai dan bermutu
baik serta aman untuk dikonsumsi. Karena itu, pada proses pembuatannya sering dilakukan penambahan “bahan tambahan makanan” atau BTM antara lain bahan pengawet, pengenyal, pewarna, dan lain-lain. Zat kimia yang digunakan dalam pengawetan pangan terbagi dalam dua kelompok; komponen makanan biasa seperti gula dan garam, dan berbagai bahan khusus yang mencegah atau memperlambat kerusakan pangan.
Beberapa bahan atau zat yang sering disalahgunakan dalam pengolahan makanan karena bersifat toksis antara lain boraks, formalin dan rhodamine B. Penggunaan boraks sebagai bahan tambahan makanan telah dilakukan lama, antara lain dalam pembuatan krupuk gendar. Boraks oleh pedagang dikenal dengan nama bleng, cetitet, puli, atau obat gendar (bahasa Jawa). Penggunaan boraks termasuk dalam Bahan tambahan pangan yang dilarang digunakan dalam menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 dan No 1168/Menkes/Per/X/1999 sebagai berikut :
  1. Natrium Tetraborat  ( Borax)
  2. Formalin (Formaldehyde)
  3. Minyak Nabati yang di Brominasi/ Brominated vegetable oil.
  4. Kloramfenikol ( Chlorampenicol )
  5. Kalium Klorat  ( Potassium Chlorate )
  6. Diethil pirokarbonat  (Diethyl Pyrocarbonate, DEPC)
  7. Nitrofurazon (Nitrofurazon)
  8. P-Penetilkarbamida ( P-Penethylcarbamide, dulcin,4-ethoxy phenil uea)
  9. Asam Salisilat dan Garamnya ( salicylic acid and its salt)
bleng (bentuk borax yang biasa digunakan oleh pedagang bakso)



Menurut Permenkes  No 1168/Menkes/Per/X/1999, ada tambahan bahan yang tidak diperbolehkan untuk makanan yaitu: Rhodamin B (pewarna merah), Methanyl Yellow (pewarna kuning), Dulsin (pemanis sintesis) dan Potassium Bromat (pengeras). 

Oleh karena itu, informasi untuk mengidentifikasi apakah dalam makanan mengandung borax atau tidak, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Berikut ini adalah prosedur analisa sederhana untuk identifikasi keberadaan borax dalam makanan :
1. Membuat kertas indikator curcumin / tumeric
Curcumin adalah salah satu zat aktif antioksidan yang banyak terdapat dalam kunyit / kunyit. Pembuatan kertas indikator curcumin sederhana bisa dilakukan dengan cara :
a. Menumbuk atau parut kunyit hingga diperoleh kira kira 3 gram parutan kunyit.
b.Peras parutan kunyit tersebut dan diperoleh larutan kunyit yang berwarna oranye.
c.Masukkan kertas saring yang telah dipotong 1x3 cm ke dalam larutan kunyit tersebut.
d. Biarkan beberapa saat sampai kertas saring menyerap larutan curcumin.
e. Ambil kertas indikator curcumin basah tersebut dan keringkan dengan cara diangin-anginkan.
f. Pengeringkan kertas indikator curcumin tidak dilakukan di bawah sinar matahari, supaya antioksidan curcumin yang berfungsi sebagai zat aktif indikator tidak rusak.

2. Ambil sampel yang akan diteliti keberadaan borax di dalamnya, misal mie, tahu, bakso, lontong, cilok, lupis, dll.
3. Tempelkan kertas indikator curcumin pada sampel (apabila sampel bakso/lontong/tahu, sampel diiris terlebih dahulu supaya pemeriksaan dapat dilakukan di bagian dalam)
4. Perhatikan perubahan warna yang terjadi pada kertas indikator curcumin. Jika terbentuk perubahan pada kertas indikator dari oranye menjadi hijau, maka sampel Anda positif borax.

Contoh hasil uji borax pada bakso yang dihaluskan dengan kertas tumeric / curcumin

Selain menggunakan cara pengujian, identifikasi borax dalam makanan dapat dilakukan dengan mencermati makanan secara langsung, dengan cara :
- Mie Basah : tidak lengket, sangat kenyal, serta tidak mudah putus
- Bakso : tekstur sangat kenyal, warna tidak kecokelatan seperti penggunaan daging, tapi lebih cemerlang 
   keputihan.
- Lontong : rasa getir dan sangat gurih, serta beraroma sangat tajam
- Kerupuk : teksturnya sangat lembut dan renyah, bisa menimbulkan rasa getir di lidah

Mudah khan cara identifikasi keberadaan borax pada makanan. Anda bisa lakukan dan berikan informasi ini kepada orang di sekitar Anda supaya mendapatkan makanan yang sehat.

Salam sehat, 


Bookmark and Share

Minggu, 17 Juni 2012

Hati-hati Penggunaan Kemasan Plastik Kode. 03 (PVC) Sebagai Kemasan Makanan

Penggunaan plastik kresek sebagai pembungkus makanan ternyata tidak sepenuhnya aman. Bukan hanya plastik kresek, kemasan yang terbuat dari plastik dan memiliki kode 03 (PVC) perlu diperhatikan penggunaannya. Sebenarnya sudah lama BPOM mengeluarkan edaran tentang dampak negatif penggunaan plastik kresek atau kemasan plastik kode 03 (PVC) untuk kemasan makanan dan sekarang saya memberikan penjelasan tambahan agar kita lebih berhat-hati mempergunakannya.

PVC adalah kepanjangan dari Poli Vinil Chloride yang merupakan polimer dalam pembuatan plastik. Polivinil klorida (IUPAC: Poli(kloroetanadiol)), biasa disingkat PVC, adalah polimer termoplastik urutan ketiga dalam hal jumlah pemakaian di dunia, setelah polietilena dan polipropilena. Di seluruh dunia, lebih dari 50% PVC yang diproduksi dipakai dalam konstruksi. Sebagai bahan bangunan, PVC relatif murah, tahan lama, dan mudah dirangkai. PVC bisa dibuat lebih elastis dan fleksibel dengan menambahkan plasticizer, umumnya ftalat. PVC yang fleksibel umumnya dipakai sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan insulasi kabel listrik.

PVC ditemukan secara tidak sengaja oleh Henri Victor Regnault pada tahun 1835 dan Eugen Baumann di tahun 1872. Di awal abad ke 20, ahli kimia Rusia, Ivan Ostromislensky dan Fritz Klatte dari perusahaan kimia Jerman Griesheim-ElektronWaldo Semon dan perusahaan B. F. Goodrich mengembangkan metode menjadikan PVC 'benar-benar plastik' dengan menambahkan berbagai bahan tambahan. Hasilnya, PVC menjadi lebih fleksibel dan lebih mudah diproses yang lalu mencapai penggunaan secara luas mencoba menetapkan penggunaan PVC sebagai produk komersial.

Penggunaan PVC secara meluas di dalam produk kemasan. Keberadaan produk kemasan makanan yang terbuat dari PVC berbahaya karena Monomer Vinil Klorida (Vinil Chloride Monomer, VCM) akan terlepas dalam makanan yang berlemak / berminyak atau mengandung alkohol berlebih dalam keadaaan panas. Selain itu, di dalam pembuatan kemasan plastik PVC juga melibatkan logam berat timbal sebagai racun bagi ginjal dan syaraf. Salah satu penggunaan kemasan tersebut yaitu plastik mika untuk tutup kue tart transparan bentuk silinder dilengkapi alas warna hitam bentuk lingkaran (surat peringatan publik oleh BPOM RI). 

Jika meninjau ketidakamanan kemasan tersebut khususnya sebagai wadah kemasan makanan beralkohol, saya menjadi ingat kemasan yang kerap dipergunakan untuk membungkus Tape Ketan Muntilan, secara kasat mata kemasan yang dipergunakan memiliki kelenturan yang sama dengan tempat roti tart (walaupun dugaan saya belum didukung oleh penelitian tentang kadar VCM dan Pb). Sebagai langkah antisipasi, lebih baik para pedagang mengganti kemasan dengan bahan yang lebih aman yaitu dengan Plastik Poli-Etilen (PE) Kode 02 & Kode 04, dan Poli-Propilen (PP) Kode 05 aman digunakan sebagai kemasan makanan.

Somoga bermanfaat,
Salam,

DOWNLOAD : 

Sumber : 

Kamis, 07 Juni 2012

Pengujian Raksa pada Krim Wajah


Perubahan kulit yang Anda alami setelah menggunakan kosmetika berlangsung cepat? terjadi dalam beberapa hari? anda mulai meragukan komposisi kosmetika Anda ? mengandung Hg atau tidak ? Berikut saya berikan beberapa informasi berkaitan dengan logam berat berwujud cair tersebut (baca : raksa) berserta cara pengujiannya khusus untuk sampel kosmetika.

Berdasarkan peraturan Menkes RI No. 140/Menkes/Per/III/1991 tentang wajib daftar alat kesehatan rumah tangga, bahwa kosmetik adalah  sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan , gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya dalam keaadan baik, memperbaiki bau badan, tetapi tidak tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit. Kosmetik termasuk sediaan farmasi maka pembuatannya harus mengikuti persyaratan, keaamanan dan kemamfaatannya sesuai dengan undang-undang kesehatan serta peraturan pelaksanaannya.
Krim adalah sediaan padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan  untuk pemakaian luar. Sekarang ini batasan tersebut diartikan untuk produk yang terdiri atas minyak dan air atau disperse mikro kristal asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk sebagai kosmetik dan untuk estetika.

A. Krim Pemutih
Krim pemutih  pemutih merupakan campuran bahan kimia dan lainnya dengan khasiat bisa memucatkan noda hitam (coklat) pada kulit. Tujuan penggunaanya dalam jangka waktu yang lama agar dapat menghilangkan  atau mengurangi hiperpigmentasi pada kulit, tetapi penggunaan yang harus terus menerus justru akan menimbulkan pigmentasi dengan efek permanen.
1.        Bahan aktif  krim pemutih.
Bahan aktif dalam kebanyakan sediaan pemutih modern adalah garam merkuri, bahan paling sering digunakan dari jenis ini merkuri kloroamida  (merkuri amida klorida, HgNH2Cl2), merkuri klorida (sublimate, HgCl2), merkurous klorida (kalomel, Hg2Cl2).  Semua senyawa ini kecuali Hg2Cl2 yang tidak dapat larut dalam air, lemak dan pelarut organic dan dicampur kedalam krim dalam bentuk dispersi halus.
2.        Cara kerja krim pemutih
Efek garam merkuri tergantung pada inhibasi enzim tirikinaase yang bertanggung jawab pada tahap pertama oksidasi tirosin menjadi melanin sehingga tahap awal dari reaksi berantai yang menuju pembentukan melanin tidak terjadi dan kulit mencerah atau lebih putih. Melanin yang ada tidak dapat dihancurkan tetapi pembentukan pigmen dicegah. Sebagai tambahan, sublimat mempunyai efek pengelupasan karena melepaskan HCl pada lapisan kulit yang paling atas yang menyerang korneum.
 

Tugas Reguler C Angkatan VI (Spektrofotometri UV-Vis)


Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day, 2002). Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. 

Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Rohman, 2007).
Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
- Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
- Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama
- Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut
- Tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi
- Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan

Selasa, 05 Juni 2012

Tentang Profesi Analis Kesehatan

Mungkin jika saya menanyakan kepada 10 orang tentang profesi analis kesehatan, saya yakin beberapa orang akan bingung, mungkin menebak-nebak. Dibandingkan saya bertanya "apakan kamu tahu tentang dokter ? apa pekerjaannya?" semua orang langsung bisa menjawab benar . Di luar negeri analis kesehatan dikenal dengan "Medical Technologist" Sebagai gambaran akademik yang lebih jelas tentang profesi analis kesehatan saya akan memberikan penjelasan tentang peran dan fungsi Ahli Madya Analis Kesehatan (sesuai dengan Kurikulum 2010 keluaran Pusdiklatnakes Kementrian Kesehatan RI 

A.     Peran Ahli Madya Analis Kesehatan
Ahli madya analis kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanan kesehata mempunyai peran sebagai :
  1. Pelaksana teknis dalam pelayanan laboratorium kesehatan
  2. Penyelia teknis operasional laboratorium kesehatan
  3. Peneliti dalam bidang laboratorium Kesehatan
  4. Penyuluh dalam bidang laboratorium Kesehatan (promoting health laboratory)

B.     Fungsi Ahli Madya Analis Kesehatan
Ahli madya analis kesehatan dalam melaksanakan tugas dalam pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai fungsi sebagai berikut :
  • Mempersiapkan proses teknis operasional di laboratorium kesehatan
  • Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses spesimen
  • Melaksanakan uji analitik terhadap reagen dan spesimen
  • Mengoperasikan dan memelihara peralatan/instrumen laboratorium
  • Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium dan lingkungannya
  • Mengevaluasi data laboratorium untuk memastikan akurasi dan prosedur pengendalian mutu, serta mengembangkan pemecahan masalah yang berkaitan dengan data hasil uji
  • Membantu klinisi dalam pemanfaatan data laboratorium secara efektif dan efisien untuk menginterpretasikan hasil uji laboratorium
  • Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium
  • Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang teknik kelaboratoriuman
  • Melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan
  • Memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang berkaitan dengan laboratorium kesehatan

C.     Kompetensi Ahli Teknologi Laboratorium
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 370/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan harus mempunyai kompetensi sebagai berikut :
1. Menguasai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya di laboratorium Kesehatan.
2. Mampu merencanakan/merancang proses yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya di laboratorium kesehatan sesuai jenjangnya.
3. Memiliki keterampilan untuk melaksanakan proses teknis operasional / pelayanan laboratorium, yaitu:
a.    Keterampilan pengambilan spesimen, termasuk penyiapan pasien (bila diperlukan), labeling, penanganan, pengawetan, fiksasi, pemrosesan, penyimpanan dan pengiriman specimen.
b.    Keterampilan melaksanakan prosedur laboratorium, metode pengujian dan pemakaian alat dengan benar.
c.     Keterampilan melakukan perawatan dan pemeliharaan alat, kalibrasi dan penanganan masalah yang erkaitan dengan uji yang dilakukan.
d.     Keterampilan melaksanakan uji kualitas media dan reagen untuk pengujian specimen.
4.   Mampu memberikan penilaian analitis terhadap hasil uji laboratorium.
5. Memiliki pengetahuan untuk melaksanakan kebijakan pengendalian mutu dan prosedur laboratorium.
6.   Memiliki kewaspadaan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hasil/uji laboratorium.

Sekian informasi tentang analis kesehatan, jika memerlukan informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Unit Informasi dan Kerjasama AAK Nasional Surakarta

Salam,


Bookmark and Share

Kamis, 01 Desember 2011

Pemanis Sintetik : Sakarin


Ketika ditemukan sakarin digunakan sebagai antiseptik dan pengawet, tetapi sejak 1900 digunakan sebagai pemanis.  Nama lain dari sakarin adalah 2,3-dihidro-3-oksobenzilsulfonasol, benzosulfimida atau o-sulfobenzimidaSakarin dengan rumus C7H5NO3S dan berat molekulnya 183,18 disintesis dari toluen biasanya tersedia sebagai garam natrium. Pelarut organik yang digunakan adalah eter karena eter merupakan salah satu pelarut organik yang tidak bisa bercampur dengan air. Setiap gram sakarin dapat larut dalam 290 ml air dalam suhu kamar atau dalam 25,0 ml air mendidih. Sakarin mudah larut dalam alkali karbonat dan sedikit larut ( sukar ) dal kloroform atau eter. Nama lain dari sakarin adalah 2,3-dihidro-3-oksobenzilsulfonasol, benzosulfimida atau o-sulfobenzimida. 



 Sakarin mengalami hidrolisa dalam suasana alkalis menjadi asam O-sulfamoil-benzoat atau dalam suasana asam akan menjadi asam ammonium O-sulfo-benzoat. Sakarin sulit larut dalam air, oleh karena itu senyawa ini sering digunakan dalam bentuk garam ( Na-sakarin )Intensitas rasa manis garam natrium sakarin cukup tinggi, yaitu kira-kira 200-700 kali sukrosa 10 %. Disamping rasa manis, sakarin juga mempunyai rasa pahit yang disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintesis. Sakarin secara luas digunakan sebagai pengganti gula karena mempunyai sifat yang stabil, nonkarsinogenik, nilai kalori rendah, dan harganya relatif murah, selain itu sakarin banyak digunakan untuk mengganti sukrosa bagi penderita diabetes mellitus atau bahan pangan berkalori rendah. Penggunaan sakarin biasanya dicampur dengan bahan pemanis lain seperti siklamat atau aspartam. Hal itu dimaksudkan untuk menutupi rasa tidak enak dari sakarin dan memperkuat rasa manis. Sebagai contoh kombinasi sakarin dan siklamat dengan perbandingan 1:3 merupakan campuran paling baik sebagai pemanis yang menyerupai gula dalam minuman. 


 Produk pangan dan minuman yang menggunakan sakarin diantaranya adalah minuman ringan (soft drinks), permen, selai, bumbu salad, gelatin rendah kalori, dan hasil olahan lain tanpa gula. Selain itu sakarin digunakan sebagai bahan tambahan pada produk kesehatan mulut seperti pasta gigi dan obat pencuci (penyegar) mulut. Ketika ditemukan sakarin digunakan sebagai antiseptik dan pengawet, tetapi sejak 1900 digunakan sebagai pemanis. Pelarut organik yang digunakan adalah eter karena eter merupakan salah satu pelarut organik yang tidak bisa bercampur dengan air. Setiap gram sakarin dapat larut dalam 290 ml air dalam suhu kamar atau dalam 25,0 ml air mendidih. Sakarin mudah larut dalam alkali karbonat dan sedikit larut ( sukar ) dal kloroform atau eter. Sakarin sulit larut dalam air, oleh karena itu senyawa ini sering digunakan dalam bentuk garam ( Na-sakarin )Intensitas rasa manis garam natrium sakarin cukup tinggi, yaitu kira-kira 200-700 kali sukrosa 10 %.

 Disamping rasa manis, sakarin juga mempunyai rasa pahit yang disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintesis. Sakarin secara luas digunakan sebagai pengganti gula karena mempunyai sifat yang stabil, nonkarsinogenik, nilai kalori rendah, dan harganya relatif murah, selain itu sakarin banyak digunakan untuk mengganti sukrosa bagi penderita diabetes mellitus atau bahan pangan berkalori rendah. Penggunaan sakarin biasanya dicampur dengan bahan pemanis lain seperti siklamat atau aspartam. Hal itu dimaksudkan untuk menutupi rasa tidak enak dari sakarin dan memperkuat rasa manis. Sebagai contoh kombinasi sakarin dan siklamat dengan perbandingan 1:3 merupakan campuran paling baik sebagai pemanis yang menyerupai gula dalam minuman. 

Produk pangan dan minuman yang menggunakan sakarin diantaranya adalah minuman ringan (soft drinks), permen, selai, bumbu salad, gelatin rendah kalori, dan hasil olahan lain tanpa gula. Selain itu sakarin digunakan sebagai bahan tambahan pada produk kesehatan mulut seperti pasta gigi dan obat pencuci (penyegar) mulut (Cahyadi, 2006). 

Pemeriksaan Sakarin 
 Prosedur pemeriksaan sakarin melalui beberapa tahap yaitu ektraksi sakarin dari sampel dan uji kualitatif sakarin. 
 1. Tahap ekstraksi 
a. Masukkan 5 mL sampel (jika sampel berbentuk serbuk larutan dengan 20-30 mL aquades) ke dalam tabung reaksi. 
b. Tambahkan HCl sampai asam (gunakan kertas lakmus sebagai indikator). 
c. Ekstraksi bertingkat dengan eter sebanyak 2-3 kali 
d. Ambil bagian eter, lakukan ekstraksi bertingkat dengan aquades sebanyak 2-3 kali 
e. Masukkan bagian eter ke dalam cawan penguap, uapkan eter 

Pengujian Sakarin 
a. Uji FeCl3
1) Larutkan residu ke dalam air panas 
2) Tambahkan 3 tetes H2SO4 2N. Panaskan sampai mendidih. 
3) Tambahkan KMnO4 2N sampai terbentuk warna merah muda yang konstan 
4) Tambahkan sepucuk NaOH teknis, masukkan ke dalam cawan penguap. Uapkan sampai kering 
5) Larutkan residu dalam air panas, asamkan dengan HCl encer (cek keasaman dengan kertas lakmus) 
6) Tambahkan FeCl3 0.5% tetes demi tetes, jika terjadi perubahan warna menjadi ungu, maka samapel positif sakarin. 

 b. Uji Brom Thymol Blue 
1) Larutkan residu dalam aquades, tambahkan 2 tetes aseton 
2) Tambahkan 2 tetes Brom Thymol Blue 
3) Tambahkan NaOH 2N tetes demi tetes, sampel positif sakarin jika terbentuk warna biru. 

c. Uji Fenol-Asam Sulfat 
1) Tambahkan 3 tetes reagen fenol-asam sulfat 
2) Panaskan ke dalam penangas air selama 10 menit 
3) Larutkan residu dalam air panas 
4) Tambahkan NaOH 2N sampai suasana basa. Jika terbentuk warna magenta / ungu kemerahan maka sampel positif sakarin 

d. Uji Resorcinol – Asam Sulfat 
1) Tambahkan 3 tetes resorcinol – asam sulfat (1:1) dan panaskan sampai terbentuk warna larutan merah. 
2) Larutkan dalam aquades dan tambahkan NaOH 2N sampai suasana basa. 
3) Tambahkan tetes demi tetes larutan I2, jika terbentuk warna fluorescence hijau maka sampel positif terdapat sakarin. 

Sumber :
 AOAC 17th edition, 2000 Official Method 941.1 (B) Saccharin in Food / Manual Methods of Analysis for Adulterans and Contaminants in Food) 

Semoga bermanfaat bagi temanteman yang akan praktik uji sakarin :)
Salam,



Bookmark and Share

Jumat, 30 April 2010

Tentang Akademi Analis Kesehatan "Nasional" Surakarta

Akademi Analis Kesehatan Nasional (AAK Nasional) menyelenggarakan program studi D3 Analis Kesehatan, yang mencetak tenaga ahli madya analis kesehatan sebagai tenaga kesehatan di bidang laboratorium kesehatan. Akademi Analis Kesehatan Nasional Surakarta berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.00.06.1.1.2509 tertanggal 6 Agustus 1997. AAK Nasional memiliki Akreditasi Strata B tertuang dalam Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan No.HK.06.01/III/3/01080/ 2011 Tanggal 17 Juni 2011.


Sedangkan sebagai badan penyelenggara Akademi Analis Kesehatan Nasional ini adalah Yayasan Pendidikan Farmasi Nasional (YPFN) yang berkedudukan di Surakarta, dengan Thomas Sulistyono sebagai Ketua Yayasan.
AAK Nasional sebagai institusi pendidikan tinggi berintegrasi dalam pembinaan Departemen Pendidikan Nasional melalui binaan dari Kopertis Wilayah VI dan pada tanggal 7 Oktober 2011 telah terakreditasi B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan nomor sertifikat No.017/BAN-PT/AK-XI/Dpl-III/X/2011. Dalam usaha penjaminan mutu manajemen, selain melakukan audit internal secara mandiri melalui Pusat Penjaminan Mutu (P2M), maka pada tanggal 5 April 2011 dilakukan audit eksternal dari URS (United Registrar of System) dan menerima sertifikat ISO 9001:2008 No. 46093/A/0001/UK/En. 


VISI

“Menjadi institusi pendidikan analis kesehatan yang bermutu dan berdaya saing.”

MISI
  1. Mengembangkan integritas, disiplin dan profesionalisme bagi civitas akademika
  2. Memenuhi standar mutu pendidikan yang tertinggi dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.
  3. Menerapkan kurikulum yang dinamis berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan kebutuhan dunia usaha dan industri.
  4. Menyediakan sarana dan prasarana sebagai penunjang terbentuknya suasana akademik yang mendukung proses pembelajaran.
  5. Mengembangkan unit pelayanan yang dapat mendukung keterjangkauan penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh rakyat.

http://www.aaknasional.ac.id


Bookmark and Share

Pengaruh Bahan Kimia Pada Manusia

Antara satu zat kimia dengan zat kimia lain dapat menimbulkan interaksi atau saling berpengaruh satu sama lainnya. Efek yang terjadi dapa...